ACEH UTARA — Tiga titik tanggul Krueng Peutoe di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, mengalami jebol dan memicu ancaman banjir setiap kali hujan deras melanda wilayah tersebut.
Kondisi tersebut membuat warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di tengah cuaca ekstrem dan potensi hujan tinggi yang dapat memicu luapan sungai.
Camat Lhoksukon, Kamaruddin, menjelaskan bahwa ketiga titik tanggul yang jebol itu berlokasi di Gampong Meunasah Kumbang, Meunasah Krueng, dan Meunasah Dayah.
Namun, dari tiga titik tersebut, baru tanggul di Gampong Meunasah Kumbang yang sudah mendapatkan penanganan dan saat ini tengah memasuki tahap finishing. Sementara itu, tanggul di Meunasah Krueng dan Meunasah Dayah belum tersentuh perbaikan sama sekali.
“Tanggul jebol di Meunasah Krueng dan Meunasah Dayah belum tersentuh sama sekali. Sedangkan untuk Meunasah Kumbang sedang proses finishing dan sudah ditangani,” ujar Kemal, sapaan akrab Kamaruddin, Rabu, 7 Oktober 2026.
Selain tiga titik itu, kondisi tanggul di Gampong Meunasah Pante juga mulai tergerus dan terancam kembali ambruk. Padahal, tanggul tersebut sempat mendapatkan penanganan darurat sekitar dua bulan yang lalu. Tingginya debit air saat hujan deras kembali menggerus bagian tanggul tersebut.
“Dikhawatirkan akan ambruk lagi. Dan ini memang sangat meresahkan,” tambahnya.
Kemal menyampaikan bahwa penanganan tanggul di Gampong Meunasah Dayah dan Meunasah Krueng telah diusulkan melalui Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Kendati demikian, paket pekerjaan tersebut hingga saat ini belum turun dan merupakan kewenangan pemerintah provinsi.
Sebagai solusi jangka panjang, pihak kecamatan telah mengusulkan pembangunan tanggul secara permanen, yang mencakup opsi perbaikan maupun pembangunan baru di lokasi-lokasi yang kondisinya sudah rusak parah.
“Untuk jangka panjang kita sudah mengusulkan secara permanen agar dilakukan perbaikan ataupun pembuatan baru. Sedangkan jangka pendek, kita terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan mengantisipasi barang berharga dan yang mudah rusak jika terjadi banjir,” tuturnya.
Di tengah belum tuntasnya perbaikan sejumlah tanggul tersebut, Pemerintah Kecamatan Lhoksukon juga secara aktif mendorong warga untuk melaksanakan gotong royong membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar.
Kendati demikian, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mencegah banjir ketika hujan deras terjadi, mengingat persoalan utamanya terletak pada tanggul sungai yang telah jebol dan tergerus.
“Dalam menghadapi musim penghujan mari sama-sama kita waspada, mawas diri, antisipasi, lingkungan juga perlu dibersihkan. Karena tidak hanya menghindari dari ancaman banjir, tapi juga penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan sebagainya. Intinya pembersihan lingkungan untuk mengantisipasi masalah baru,” pungkasnya.***
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan










