Home / Pendidikan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:24 WIB

Tim Mahasiswa USK Inovasi Membran Penjernih Air Antibakteri dari Ekstrak Rumput Bambu

REDAKSI

Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil mengembangkan membran penjernih air antibakteri ramah lingkungan dari ekstrak rumput bambu (Pogonatherum crinitum).

Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil mengembangkan membran penjernih air antibakteri ramah lingkungan dari ekstrak rumput bambu (Pogonatherum crinitum).

BANDA ACEH — Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil mengembangkan inovasi membran penjernih air antibakteri yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan ekstrak rumput bambu (Pogonatherum crinitum).

“Kita sedang mengembangkan inovasi rekayasa membran penyaring air ramah lingkungan yang memiliki sifat antibakteri sangat kuat,” ujar Ketua Tim PKM-RE Teknik Kimia USK, Said Habiburrahman, di Banda Aceh, Selasa.

Baca Juga :  Peusijuek Awali Hari Pertama Sekolah Siswa SMA Negeri 1 Matangkuli Pascabanjir

Penelitian berfokus pada “Rekayasa Struktur dan Sifat Antibiofouling Membran Polietersulfon dengan Nanopartikel Perak (Ag) dan Seng Oksida (ZnO) dari Ekstrak Pogonatherum Crinitum”. Inovasi ini digagas oleh Said Habiburrahman bersama dua anggotanya, Zidan Farel Al-Rasyid dan Muhammad Zaid, di bawah bimbingan Prof. Nasrul.

Said menjelaskan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap tingginya tingkat pencemaran air serta keterbatasan teknologi membran polyethersulfone (PES) konvensional. Membran konvensional yang kerap digunakan dalam pengolahan air tersebut dinilai memiliki kelemahan utama, yakni sangat rentan terhadap biofouling—fenomena penumpukan polutan organik dan mikroorganisme yang menyumbat pori-pori membran hingga menurunkan efisiensi filtrasi secara drastis.

Baca Juga :  Dinas Pendidikan Aceh Serukan Penggalangan Donasi untuk Guru, Tendik dan Siswa Terdampak Banjir Aceh

Guna mengatasi persoalan tersebut, tim merekayasa membran PES melalui injeksi nanopartikel perak (Ag) dan seng oksida (ZnO). Injeksi ini menerapkan pendekatan green synthesis yang memelopori penggunaan ekstrak rumput bambu.

Baca Juga :  Kadisdik Targetkan SMA di Aceh Masuk 10 Besar Nasional, Butuh Dukungan Semua Pihak

Menurut Said, rumput bambu selama ini kerap dipandang sebatas tanaman liar yang tumbuh subur di kawasan tropis, sehingga pemanfaatannya masih sangat minim.

“Padahal, tanaman liar ini telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dalam bidang farmasi, biomedis, dan material,” ungkapnya.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Berita

SDN Alue Lhok Aceh Barat yang Rusak Akibat Banjir Segera Dibangun Kembali Lewat Dana CSR Rp1,5 Miliar

Pendidikan

Materi Jaksa Masuk Sekolah Dinilai Sangat Relevan untuk Siswa

Pendidikan

Pemulihan Pendidikan Aceh Pasca Banjir Dipercepat Lewat Revitalisasi SMK dan SLB

Pendidikan

Disdik Aceh Batasi Penggunaan Gawai di SMA, SMK, dan SLB Demi Sekolah Lebih Disiplin dan Fokus

Pendidikan

Syamsul Rijal Pimpin Forum Komunikasi Prodi Pascasarjana PTKI, UIN Ar-Raniry Soroti Masa Depan Studi Islam

Pendidikan

Dua Siswa SMAN Modal Bangsa Lolos ke Final OSN Tingkat Nasional 2026

Berita

UIN Ar-Raniry Banda Aceh Wisuda 1.618 Lulusan, Rektor Ingatkan Pentingnya Integritas

Pendidikan

Apresiasi GTK 2025 Banda Aceh Dibuka, Disdik Aceh Dorong Guru Inovatif dan Berdaya Saing