Pidie – Kabupaten Pidie kembali diramaikan dengan salah satu tradisi khas yang sarat makna budaya, yakni Teut Beudee Trieng. Tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat, terutama oleh para perempuan atau inoeng Aceh yang turut ambil bagian dengan penuh semangat.
Dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan, sejumlah wanita dari berbagai kalangan usia—baik remaja hingga yang telah berumur—turun langsung memeriahkan kegiatan tersebut.(23/3/2026).
Mereka terlihat kompak, antusias, dan penuh energi, menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya milik generasi terdahulu, tetapi juga diwariskan dan dicintai oleh generasi masa kini.
Teut Beudee Trieng sendiri merupakan tradisi yang berkaitan dengan aktivitas pengolahan bambu (trieng) yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi di tengah masyarakat Aceh. Selain menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kegiatan ini juga sering dimaknai sebagai simbol kebersamaan, gotong royong, serta kekuatan perempuan dalam menjaga identitas budaya daerah.
Menariknya, kehadiran para wanita dalam tradisi ini tidak hanya sekadar berpartisipasi, tetapi juga menjadi pusat perhatian. Dengan semangat yang membara, mereka membuktikan bahwa perempuan Aceh memiliki peran penting dalam melestarikan budaya. Ungkapan “Inoeng Pidie terlalu menyala” pun menjadi representasi dari energi positif yang terpancar selama kegiatan berlangsung.
Di tengah maraknya penggunaan media sosial, dokumentasi kegiatan ini turut dibagikan oleh akun 📹 @anasauliaputra, yang kemudian mendapat respons positif dari warganet. Apresiasi juga disampaikan kepada para pengguna media sosial yang tetap menjaga etika berkomentar tanpa kata kasar maupun hujatan, khususnya di akun @tercyduck.aceh.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ruang digital. Dukungan berupa komentar positif dan apresiasi menjadi bagian penting dalam menjaga semangat kebersamaan serta memperkuat identitas budaya lokal.
Tradisi Teut Beudee Trieng di Pidie bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam masyarakat. Dengan keterlibatan aktif para perempuan, tradisi ini diyakini akan terus bertahan dan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.(**)
Editor: redaksi









