Home / Aceh

Senin, 13 Juli 2026 - 21:47 WIB

Kisah Prof Jasafat, Guru Besar UIN Ar-Raniry: Kebesaran Itu Bernilai Jika Mampu Membesarkan Allah

REDAKSI

Prof Dr Jasafat MA bersama Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Prof Dr Jasafat MA bersama Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Banda Aceh – Ketika namanya diumumkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Dakwah, Prof Dr Jasafat MA tidak melihatnya sebagai puncak pencapaian akademik. Bagi dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu, jabatan profesor justru merupakan amanah yang menuntut kerendahan hati dan tanggung jawab yang lebih besar.

“Jangan menganggap guru besar itu sudah paling besar, tapi Kebesaran itu akan benar-benar besar jika ia mampu membesarkan Allah,” ujar Prof Jasafat dengan tenang.

Kalimat sederhana itu mencerminkan perjalanan hidupnya. Di balik gelar profesor yang kini disandang, tersimpan kisah panjang tentang pendidikan, keteladanan seorang guru, perjuangan dimasa konflik, keyakinan bahwa ilmu harus menjadi jalan pengabdian kepada masyarakat.

Diasuh Guru Sejak Kecil

Masa kecil Prof Jasafat tidak sepenuhnya dilalui bersama kedua orang tuanya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia diasuh oleh adik kandung ayahnya. Memasuki jenjang SMP, kehidupannya berada di bawah bimbingan Drs Tgk Ismail Yakob, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry.

Menurutnya, sosok Tgk Ismail Yakob merupakan figur yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dan jalan hidupnya.

Baca Juga :  11 Calon Taruna dan Taruni Akpol Lulus Tes Kesehatan Tahap II di Polda Aceh

“Beliau bukan hanya membimbing saya belajar, tetapi juga mendidik kedisiplinan, akhlak, cara berpikir, dan semangat menuntut ilmu. Apa yang saya capai hari ini tidak lepas dari didikan beliau,” kenangnya.

Lingkungan pendidikan yang dekat dengan dunia kampus sejak usia muda perlahan menumbuhkan cita-citanya menjadi seorang dosen. Baginya, dosen bukan sekadar profesi, tetapi jalan untuk menebarkan ilmu dan membentuk generasi penerus.

Menempuh Studi di Tengah Konflik

Perjalanan akademik menuju gelar doktor bukanlah jalan yang mudah. Prof Jasafat menempuh pendidikan magister dan doktor di Universiti Sains Malaysia ketika Aceh masih berada dalam situasi konflik.

Saat banyak orang berjuang bertahan di tengah ketidakpastian, ia memilih tetap melanjutkan pendidikan.

“Ketika itu kami kuliah sambil menyelamatkan diri dari konflik. Pendidikan menjadi harapan agar kami tetap bisa melangkah ke depan,” tuturnya.

Selama berada di Pulau Pinang, ia tidak hanya menjalani perkuliahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, ia juga berniaga sekaligus bekerja pada bidang Sosial Budaya dan Penerangan (SOSBUDPEN) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Pulau Pinang.

Baca Juga :  Kembali Kunjungi Aceh Tamiang, Kapolri Pastikan Recovery Pascabencana Berjalan Optimal

Pengalaman menjalani peran sebagai mahasiswa, pekerja, dan pelaku usaha dalam waktu yang bersamaan membentuk ketangguhan serta kedisiplinan yang terus melekat hingga kini.

Memilih Ilmu Dakwah

Ketertarikannya pada Ilmu Dakwah lahir dari keyakinan bahwa dakwah bukan sekadar ceramah di atas mimbar. Menurutnya, dakwah adalah proses membangun manusia, menyelesaikan persoalan sosial, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, selama menjadi dosen dan peneliti, ia banyak mengembangkan kajian komunikasi dakwah, media dakwah, pemberdayaan masyarakat, hingga dakwah di era digital.

Baginya, Ilmu Dakwah harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam sebagai fondasi.

Guru Besar adalah Amanah

Perjalanan menuju jabatan Guru Besar membutuhkan proses panjang, mulai dari pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, hingga pengabdian kepada masyarakat. Namun, bagi Prof Jasafat, tantangan terbesarnya justru datang setelah jabatan itu diraih.

“Guru Besar bukan gelar untuk dibanggakan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberi manfaat.”

Ia mengaku bersyukur ketika menerima Keputusan Menteri Agama tentang penetapan Guru Besar. Rasa syukur itu bukan karena berhasil memperoleh jabatan akademik tertinggi, melainkan karena diberi kesempatan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Aceh Raih Penghargaan Wirasena 2025 atas Capaian Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024

Mewariskan Ilmu, Bukan Sekadar Gelar

Sebagai Guru Besar Ilmu Dakwah, Prof Jasafat berharap dapat melahirkan lebih banyak akademisi muda, memperkuat tradisi riset, dan mengembangkan dakwah yang mampu menjawab tantangan masyarakat modern.

Ia meyakini, ukuran keberhasilan seorang profesor bukan ditentukan oleh gelar yang disandang, melainkan oleh ilmu yang diwariskan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Guru Besar bukan berarti kita yang paling besar. Kebesaran itu akan bernilai apabila ilmu yang kita miliki semakin mendekatkan manusia kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.”

Prinsip itulah yang terus dipegang Prof Jasafat sepanjang perjalanan hidupnya, mulai dari anak yang tumbuh dalam asuhan seorang guru, mahasiswa yang ditempa situasi konflik, hingga akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Dakwah.

Baginya, setiap pencapaian hanyalah jalan untuk memperluas pengabdian, bukan tujuan akhir dari perjalanan hidup. [**]

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Aceh

Akademisi Jebolan Harvard Ajak Disdik Berani Berinovasi untuk Bangkitkan Mutu Pendidikan

Aceh

DPRA Desak PLN Aceh Perbaiki Sistem Komunikasi Pemadaman Listrik

Aceh

Gubernur Aceh Salurkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Banjir di Aceh Barat

Aceh

Plt Sekda Lepas Kontingen FORNAS 2025 ke NTB, Bawa Misi Budaya dan Sportivitas

Aceh

Yonif TP 856/SBS Gotong Royong Bersihkan Rumah Warga Terdampak Banjir Aceh Tengah 

Aceh

Hafidzah Aceh Besar Farrasa Zayyan Lancar Selesaikan Lomba Cabang Tafidz 5 Juz

Aceh

Cabor Pordi Aceh Resmi Terbentuk, Ini Susunan Pengurusnya

Aceh

Sekda Nasir Optimis Kader Muda Seudang Mampu Lanjutkan Estafet Perjuangan Partai Aceh