Home / Berita

Senin, 9 Februari 2026 - 15:01 WIB

HPN 2026, Isa Alima Ingatkan Pers Jaga Nurani Publik

Redaksi

Oleh: Drs. Isa AlimaPemerhati Kebijakan dan Komunikasi Publik Aceh (9/2/2026)

Oleh: Drs. Isa AlimaPemerhati Kebijakan dan Komunikasi Publik Aceh (9/2/2026)

Aceh – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap 9 Februari bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, HPN merupakan momentum refleksi bagi insan pers untuk kembali meneguhkan peran strategisnya dalam menjaga nurani publik dan mengawal demokrasi dari berbagai bentuk penyimpangan.

Pada HPN 9 Februari 2026, ucapan selamat patut disertai pesan yang jujur dan tegas kepada seluruh jurnalis di Tanah Air, khususnya di Aceh, agar tetap setia pada nilai-nilai dasar jurnalistik.

“Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2026. Pers adalah cahaya di lorong kekuasaan, penuntun arah di tengah kabut kepentingan. Tanpa pers yang merdeka dan berintegritas, kebenaran akan kehilangan suara.”

Baca Juga :  Bupati dan Ketua TP-PKK Aceh Besar Hadiri Temu Tamah dan Buka Puasa Bersama Dengan Pengurus PKK se-Aceh Masa Bakti 2025-2030

Pers bukan sekadar penyampai peristiwa, melainkan penjaga akal sehat publik. Di tengah banjir informasi, hoaks, dan tekanan algoritma media digital yang kerap mengejar sensasi, pers diuji untuk tidak tergelincir menjadi alat kepentingan tertentu. Di sinilah integritas diuji—berpihak pada fakta, bukan tekanan; setia pada etika, bukan klik dan popularitas.

Aceh memiliki sejarah pers yang lahir dari denyut perjuangan rakyat. Sejak masa konflik hingga era perdamaian, pers Aceh memainkan peran penting sebagai saksi sejarah sekaligus pengingat kekuasaan. Karena itu, jurnalis Aceh memikul tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga marwah profesi: bersikap kritis namun beradab, berani namun tetap bertanggung jawab.

Baca Juga :  Seorang Pria di aceh Timur Melakukan Kekerasan Seksual Kepada Anak Kandungnya Sejak SD

Pers tidak boleh hanya ramai di ruang konferensi pers, tetapi sunyi di ladang-ladang petani, di pesisir nelayan, dan di lorong-lorong kemiskinan.

“Pers harus hadir bagi mereka yang kerap terpinggirkan: petani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil. Menulis dengan hati, mengabarkan dengan akal, serta mengawal dengan keberanian.”

Di sisi lain, seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, aparat, dan elit politik—harus belajar menghormati kemerdekaan pers. Kritik bukan ancaman, melainkan vitamin demokrasi: kadang pahit, tetapi menyembuhkan. Upaya membungkam pers, baik secara halus maupun terang-terangan, merupakan cermin rapuhnya komitmen terhadap demokrasi itu sendiri.

Baca Juga :  Bukti Hasil Kerja Keras, Aceh Besar Raih Predikat Kepatuhan Pelayanan Publik 2024

HPN 2026 seharusnya menjadi titik tolak untuk memperkuat profesionalisme wartawan, meningkatkan literasi publik, serta membangun sinergi yang jujur antara pers, masyarakat, dan pemerintah. Pers yang kuat tidak lahir dari keberpihakan pada kekuasaan, melainkan dari keberanian menjaga jarak kritis dengannya.

“Semoga pers Indonesia tetap menjadi suluh di malam panjang, menyalakan harapan, dan memastikan kebenaran tetap hidup.”(**)

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Berita

Pangdam IM resmikan pembangunan dan renovasi Makam Pahlawan Nasional Teuku Umar

Berita

Polda Aceh Pastikan Penanganan Kasus Pengeroyokan di Bener Meriah Dilakukan secara Profesional

Berita

Polwan Polda Aceh Ini Raih Juara II Karate Piala Kapolri Tahun 2025

Berita

Usai Pimpin Upacara Hardiknas, Wagub Aceh Apresiasi Inovasi Siswa

Berita

Paripurna HUT ke-41 Kota Jantho, Bupati Syech Muharram Ajak Semua Bersinergi Bangun Aceh Besar

Berita

Peringatan 20 Tahun Tsunami Aceh: Warga Aceh Sukmajaya Perkuat Ukhuwah dan Keikhlasan

Berita

Program Lembu Meugang Disorot, Cegah Mark Up dan Data Fiktif

Berita

Musnahkan Ladang Ganja, Pangdam Iskandar Muda Tegaskan Komitmen Kodam IM berantas Narkoba.