BANDA ACEH – Pengaliran temuan gas di Tangkulo, blok South Andaman, ke daratan Aceh diproyeksikan akan dilakukan setelah melalui proses pengolahan di fasilitas lepas pantai (offshore). Langkah ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan industri, pembangkit listrik, serta memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut dipaparkan oleh Ahli Ekonomi Energi dari Universitas Pertamina, A Rinto Pudyantoro, dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa rencana pengembangan lapangan gas Tangkulo telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah melalui Plan of Development (PoD).
“Gas Tangkulo diproses di fasilitas offshore, kemudian dialirkan ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut, untuk mendukung industri, pembangkit listrik, dan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata A Rinto Pudyantoro.
Mantan Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas ini menambahkan, berdasarkan data riset dari berbagai sumber seperti SKK Migas, pakar, dan praktisi migas, gas yang disalurkan tersebut akan diterima oleh fasilitas Onshore Receiving Facility (ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Aceh.
Skema Alur Operasi Pengembangan Cadangan Gas
Untuk mengelola cadangan gas sebesar 2 TCF (trillion cubic feet) di Tangkulo, Rinto memaparkan skema teknis alur operasinya:
Subsea Wells (Sumur Bawah Laut): Mengalirkan gas alam dari reservoir ke fasilitas FPSO pada kedalaman laut -1.200 meter.
FPSO (Floating Production Storage Offloading): Memproses gas alam menjadi sales gas dan kondensat sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan.
Gas Export Pipeline: Pipa bawah laut sepanjang 85 km yang menyalurkan seluruh sales gas dari fasilitas offshore ke daratan Aceh.
Onshore Receiving Facilities (ORF) KEK Arun:Menerima pasokan gas dari offshore untuk proses pengukuran, pengaturan tekanan, dan penyaluran ke jaringan distribusi.
Pemanfaatan Daratan: Gas disalurkan untuk sektor industri, pembangkit listrik, kegiatan hilirisasi, dan kebutuhan lainnya di Aceh.
Tantangan dan Strategi Pengembangan Gas Andaman
Meski memiliki potensi besar bagi ekosistem hilirisasi dan efek berganda (multiplier effect) ekonomi Aceh, Rinto mengungkapkan sejumlah tantangan teknis serta ekonomis yang perlu dihadapi dalam pengembangan lapangan gas deepwater ini:
1. Tantangan Laut Dalam (Deepwater): Pengelolaan Tangkulo membutuhkan teknologi kompleks, investasi besar, dan risiko tinggi. Pengembangannya oleh Mubadala Energy diharapkan mendukung ketahanan energi nasional.
2. Kepastian Pasar dan Keekonomian: Proyek deepwater membutuhkan kepastian pembeli (pasar) dan penetapan skema harga gas yang tepat untuk menjamin keekonomian serta keberlanjutan investasi.
3. Tahapan Proses Panjang: Tahapan dari discovery hingga produksi memerlukan durasi waktu panjang, mencakup eksplorasi, studi teknis dan ekonomi, penentuan pasar, pengeboran, hingga pembangunan infrastruktur.
4. Kesiapan Penyerapan LOKAL: Tantangan utama bagi Aceh adalah kesiapan sektor industri dan infrastruktur darat untuk menyerap pasokan gas yang nantinya dialirkan.
“Jika rencana ini dapat berjalan baik, Tangkulo menjadi langkah awal pengembangan potensi gas Andaman, sekaligus membuka peluang investasi, industri, dan pertumbuhan ekonomi Aceh di masa depan,” ujar A Rinto Pudyantoro.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









