BANDA ACEH — Tekanan harga bahan pangan kembali memicu kenaikan angka inflasi di Tanah Rencong. Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Aceh pada September 2026 berada di angka 0,36 persen (mtm) atau menembus 5,03 persen (yoy).
Lonjakan harga komoditas utama khususnya cabai merah dan daging ayam ras menjadi dalang utama di balik pergerakan angka inflasi tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh, Agus Chusaini, mengungkapkan bahwa minimnya pasokan akibat pasokan lokal yang belum memasuki masa panen serta cuaca ekstrem menjadi pemicu utama kenaikan harga cabai merah.
”Kenaikan harga cabai merah dipengaruhi kondisi produksi, khususnya di Aceh Tengah yang masih dalam masa tanam. Selain itu, fenomena El Nino berupa kemarau panjang secara nasional turut menekan produksi dan pasokan pangan,” ujar Agus Chusaini dalam acara Bincang Bareng Media (BBM), Senin (5/10/2026).
Tak hanya cabai merah, momentum keagamaan dan biaya produksi penunjang juga ikut mendorong inflasi:
Daging Ayam Ras: Permintaan melonjak drastis seiring maraknya perayaan Maulid Nabi di tengah kenaikan harga pakan ternak.
Komoditas Pangan Lain: Cabai hijau, ikan tuna, dan semangka turut memberi andil terhadap kenaikan inflasi.
Peta Inflasi Antarwilayah di Aceh (September 2026):
Aceh Tengah: 0,59% (Tertinggi)
Aceh Tamiang: 0,52%
Kota Lhokseumawe: 0,33%
Banda Aceh: 0,25%
Mengingat cabai merah dan bahan pangan pokok kerap berulang menjadi sumber risiko inflasi di Aceh, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Aceh bergerak mengeksekusi sejumlah strategi penanganan dari hilir hingga hulu.
Langkah konkret yang ditempuh meliputi penguatan distribusi bahan pokok (gula pasir, telur ayam ras), peningkatan kapasitas produksi petani lewat bantuan bibit, pupuk, dan mesin pertanian, serta menggalakkan edukasi kampanye Belanja Bijak bijak membeli, memilih, mengonsumsi, dan bertransaksi agar stabilitas harga di masyarakat tetap terjaga.
Editor: Dahlan










