SINGKIL — Anak-anak di Kampong Kuta Simboling, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, harus menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk pergi ke sekolah pada Rabu (7/10/2026). Hal ini terjadi setelah dua jembatan kayu di desa tersebut ambruk akibat terdorong eceng gondok saat volume air sungai meningkat sekitar empat hari lalu.
Untuk membantu mobilitas warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil menyediakan perahu fiber. Perahu tersebut diikat pada seutas tali yang membentang di atas sungai, lalu ditarik sendiri oleh anak-anak sekolah dan warga agar sampai ke seberang.
Putusnya jembatan penghubung antar-dusun ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama bagi sekitar 30 kepala keluarga (KK) di Dusun Masjid. Warga kesulitan untuk berangkat bekerja maupun memenuhi kebutuhan pokok harian. Hal ini dikarenakan tidak ada warung di Dusun Masjid, sehingga penduduk harus menyeberang ke Dusun Tanggul untuk berbelanja.
Selain memblokir akses ekonomi dan pendidikan, kerusakan jembatan juga berdampak pada kegiatan ibadah. Asraden, salah seorang warga Kuta Simboling, menyebutkan bahwa jemaah shalat di masjid kampong mengalami penurunan. Lokasi masjid yang berada di Dusun Masjid membuat warga dari Dusun Tanggul dan Dusun Pengairan—wilayah dengan penduduk terbanyak—kesulitan untuk datang beribadah.
Warga berharap pemerintah setempat dapat segera memperbaiki akses jalan yang rusak tersebut.
“Susah kami, tolong bantu kami,” ungkap Maryana, salah seorang warga setempat, setelah menyeberangi sungai menggunakan fasilitas perahu dari BPBD.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan










