SINGKIL – Petani di Kabupaten Aceh Singkil mulai memanen cabai merah keriting. Panen cabai lokal ini membuat pasokan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kiriman dari wilayah Sumatera Utara.
Mulai masuknya cabai hasil panen petani lokal turut menekan harga cabai di pasar tradisional di daerah tersebut.
Sebelumnya, harga cabai merah keriting di tingkat pedagang eceran sempat menyentuh Rp 80.000 per kilogram (kg). Namun, setelah petani lokal mulai panen, harga turun menjadi Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kg.
Sementara itu, petani lokal menjual cabai hasil panennya kepada pengepul dengan harga Rp 50.000 per kg.
“Kami jual Rp 50 ribu per kg,” kata Jamil, petani cabai merah keriting, Minggu (18/10/2026).
Menurut petani, cabai hasil budidaya mereka langsung diserap pasar, berapa pun jumlahnya. Hal ini karena cabai lokal dinilai lebih segar dibandingkan cabai yang dipasok dari luar daerah.
Selain itu, cabai lokal juga dipercaya memiliki rasa lebih pedas. Tak heran, jika tersedia pilihan, ibu rumah tangga cenderung memilih cabai lokal dibandingkan cabai yang didatangkan dari luar daerah.
Banyak Tanaman Cabai Gagal Tumbuh
Di sisi lain, banyak tanaman cabai milik petani di Aceh Singkil yang gagal tumbuh. Kondisi ini terjadi akibat perubahan musim penghujan dan kemarau yang tidak sesuai dengan prediksi petani.
Dampaknya terutama dirasakan petani yang mulai menanam cabai pada Agustus lalu. Sebagian tanaman tidak mampu bertahan karena petani kesulitan melakukan penyiraman saat kondisi tiba-tiba memasuki musim kemarau.
“Banyak yang gagal tumbuh, karena tak sanggup siram saat tiba-tiba masuk kemarau,” ujar seorang petani.
Meski sebagian petani mengalami kegagalan tanam, panen cabai lokal yang mulai berlangsung telah membantu menambah pasokan cabai di pasar Aceh Singkil.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









