HOUSTON — Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat dan mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang Oktober 2026.
Penguatan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi aksi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang kembali mengaburkan peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global, terutama dari kawasan Timur Tengah, Sabtu (31/10/2026).
Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 2,2 persen menjadi USD113,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember menguat 0,9 persen menjadi USD102,93 per barel. Sepanjang Oktober, harga Brent telah melonjak 15,5 persen, sedangkan WTI meningkat 13,9 persen.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian utama pelaku pasar energi. Ketegangan di Timur Tengah meningkatkan premi risiko geopolitik dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia.
Kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak juga meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena alat peledak pada Jumat. Informasi tersebut disampaikan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan maritim.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi energi internasional.
Ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah muncul laporan mengenai pembahasan opsi militer AS terhadap Iran. Kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper memberikan pengarahan kepada Presiden AS Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer untuk menghadapi Iran di Gedung Putih pada Kamis. Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan sejumlah pejabat senior AS, dengan pembahasan mencakup kelanjutan blokade AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi militer berskala besar.
Trump sebelumnya juga mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan tambahan pada Rabu, Trump menyatakan “apa pun mungkin terjadi”.
Perkembangan tersebut mengurangi optimisme pasar terhadap peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik, padahal Washington disebut tengah berupaya membuka kembali komunikasi dengan Teheran untuk menghidupkan negosiasi.
Ancaman Infrastruktur Energi Kawasan Teluk
Risiko geopolitik juga meningkat setelah sistem pertahanan udara Arab Saudi mencegat rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi Yaman menuju Provinsi Timur Arab Saudi. Kantor Berita Saudi melaporkan insiden tersebut terjadi pada Kamis, menyusul klaim kelompok Houthi mengenai serangan terhadap kilang minyak Ras Tanura pada pekan yang sama.
Ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah ini turut mempertahankan premi risiko geopolitik dalam perdagangan minyak mentah global.
Kinerja Positif Perusahaan Minyak Raksasa
Di tengah gejolak pasar energi, perusahaan minyak besar AS, ExxonMobil dan Chevron, mencatatkan peningkatan laba bersih yang signifikan pada kuartal III. Kinerja kedua perusahaan didukung peningkatan margin pengolahan minyak atau penyulingan di tengah konflik geopolitik yang mengganggu arus perdagangan dan harga energi global.
ExxonMobil melaporkan laba bersih yang disesuaikan pada kuartal III mencapai USD17,51 miliar, melonjak 117,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Chevron mencatatkan peningkatan laba bersih yang disesuaikan sebesar 185,7 persen secara tahunan menjadi USD10,36 miliar.
Peningkatan kinerja kedua perusahaan terjadi di tengah konflik AS-Iran di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina yang mengganggu arus perdagangan dan harga minyak global. Konflik tersebut turut memengaruhi operasional sejumlah fasilitas produksi bahan bakar strategis dan mendorong kenaikan harga energi.
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan









