BANDA ACEH — Balai Syura Ureung Inong Aceh bekerja sama dengan badan PBB untuk urusan perempuan, UN Women, menggelar pelatihan bertajuk “Kepemimpinan Perempuan sebagai Agen Perubahan dalam Aksi Iklim yang Inklusif”. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari (15–18 Oktober 2026) ini dipusatkan di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh.
Pelatihan tersebut diikuti oleh 30 peserta perempuan yang berasal dari hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh, serta perwakilan dari kelompok perempuan rentan.
Pelaksanaan Hari Kedua dan Pesan Wali Kota
Jumat hari ini merupakan sesi hari kedua pelatihan. Kegiatan dipandu langsung oleh Ketua Balai Syura Ureung Inong Aceh, Dr. Rasyidah, M.Ag., yang juga merupakan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.
Acara diawali dengan review materi dan hasil pelatihan hari pertama guna memastikan seluruh peserta memiliki pemahaman yang sama sebelum masuk ke sesi lanjutan.
Sesi hari ini turut dihadiri oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal. Dalam kesempatan tersebut, Illiza menyampaikan sejumlah harapan kepada perempuan Aceh, terutama mengenai keterlibatan aktif dalam merawat alam.
“Semoga acara berjalan lancar dan sukses, dan segala keluh kesah yang dipaparkan oleh ibu-ibu dapat diterima dan segera diatasi,” ujar Illiza.
Simulasi Kepemimpinan dan Advokasi Tingkat Gampong
Memasuki sesi berikutnya, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok mendapat satu tema untuk diperankan dalam simulasi kepemimpinan perempuan dan aksi iklim inklusif. Usai simulasi, kelompok lain memberikan saran dan kritik agar peserta dapat saling belajar serta memperkuat keterampilan kepemimpinan.
Setelah salat zuhur, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi “Kepemimpinan Perempuan dan Advokasi di Level Gampong terkait Aksi Iklim Inklusif”. Sesi ini membekali peserta dengan pemahaman dan strategi agar mampu mendorong keterlibatan perempuan dalam kebijakan serta aksi iklim di tingkat paling dasar.
Rangkaian hari kedua kemudian ditutup dengan pemetaan partisipatif bersama peserta mengenai:
* Kekuatan (Strengths)
* Kelemahan (Weaknesses)
* Peluang (Opportunities)
* Tantangan (Threats)
Pemetaan ini dilakukan untuk menguatkan kepemimpinan perempuan dalam advokasi aksi iklim yang inklusif.
Harapan Peserta dan Output Kegiatan
Salah satu peserta perwakilan dari Aceh Barat Daya, Dien Fitriani Meutia, menyampaikan harapannya atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Saya berharap dengan adanya acara ini semoga suara-suara perempuan tidak hanya didengar, tetapi juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan dilibatkan dalam pelaksanaan,” kata Dien.
“Ditambah dengan banyaknya bencana yang terjadi di Aceh, diharapkan pemerintah lebih siap siaga untuk menangani bencana yang mungkin akan terjadi ke depannya,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat tumbuh menjadi pemimpin perempuan yang mampu menjadi penggerak perubahan di komunitas masing-masing, sekaligus memastikan suara perempuan menjadi bagian penting dalam perencanaan dan pelaksanaan aksi iklim di Aceh.
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









