Home / Ekonomi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:19 WIB

Bangkit Pasca-Banjir, Pemkab Aceh Tamiang Kembangkan Budi Daya Melon untuk Pulihkan Ekonomi Petani

REDAKSI

Pemkab Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan mengembangkan budi daya melon sebagai upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir.

Pemkab Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan mengembangkan budi daya melon sebagai upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir.

Aceh Tamiang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan resmi mengembangkan budi daya melon sebagai sarana pemulihan perekonomian masyarakat pascabencana banjir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, menyampaikan bahwa sektor ini memiliki potensi besar dalam menopang perekonomian warga.

“Pengembangan melon ini menjanjikan untuk menambah pendapatan petani, terlebih saat kondisi pascabanjir saat ini,” ujar Irwan Hadi di Aceh Tamiang, Kamis.

Keberhasilan Kelompok Tani Mutiara

Menurut Irwan, bukti keberhasilan budi daya ini telah ditunjukkan oleh Kelompok Tani Melon Mutiara yang berlokasi di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Kelompok tani tersebut dinilai sukses memanen melon varietas golden yang memiliki nilai jual cukup tinggi.

Baca Juga :  Gerai Takjil Ramadhan Dongkrak Ekonomi Pelaku Usaha di Lubok Aceh Besar

Ia menambahkan, saat ini kian banyak petani di Aceh Tamiang yang mulai bangkit melalui sektor hortikultura. Mereka berfokus menanam varietas melon hijau new madesta premium dan melon golden alisha F1, yang dikenal tahan terhadap penyakit serta bernilai ekonomi tinggi.

“Ke depan, kami berharap ada sistem pertanian melon yang menggunakan teknologi rumah kaca (greenhouse) agar petani lebih sejahtera dan dapat menjadi contoh bagi petani muda lainnya,” tambah Irwan.

Baca Juga :  Genjot Produksi Pertanian, Wagub Aceh Serahkan Alsintan untuk 3 Kabupaten 

Perjuangan Panen Perdana Usai Diterjang Banjir

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah memulai panen melon pada Rabu (12/8). Panen ini menjadi momen perdana bagi mereka setelah sempat terdampak bencana banjir.

“Sebelum bencana, kami sempat menyemai bibit melon, tetapi semuanya ludes terendam banjir beserta media tanamnya. Namun, kami bangkit dan menanamnya kembali hingga akhirnya berhasil panen perdana,” jelas Beni.

Pada pertanaman kali ini, terdapat sekitar 150 batang melon yang ditanam di atas lahan seluas 1.800 meter persegi, dengan target hasil panen perdana mencapai 2,5 ton.

Baca Juga :  Solusi Bangun Andalas Santuni 200 Anak Yatim di Lhoknga dan Leupung

Dukungan CSR dan Pemasaran Lokal

Beni menjelaskan bahwa Kelompok Tani Melon Mutiara merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina EP Rantau. Kelompok yang beranggotakan 21 orang ini secara aktif merawat tanaman mulai dari proses penyemaian, penyiraman, hingga pemupukan dengan pendampingan dari mentor teknis.

Terkait distribusi hasil panen, Beni memilih untuk memprioritaskan pasar lokal dibandingkan melalui rantai distributor.

“Hasil panen melon dipasarkan langsung kepada warga sekitar maupun konsumen yang datang memesan. Kami tidak menjual kepada agen distributor karena permintaan masyarakat lokal tergolong tinggi. Harga jual Rp20 ribu per kilogram,” pungkas Beni.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Harga Emas Antam Turun Rp40 Ribu, Buyback Ikut Melemah

Ekonomi

Pemegang Saham Pengendali pimpin RUPSLB Bank Aceh

Ekonomi

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi per 1 September 2026, Pertamax Turbo Hingga Dex Series Naik

Ekonomi

FKIJK Aceh Perkuat Kepedulian Sosial Melalui Renovasi Masjid Syuhada Kuala Simpang

Ekonomi

Rupiah Menguat terhadap Dolar AS pada Perdagangan Pagi Ini

Ekonomi

Bank Aceh Syariah Teken MoU dengan Kementerian Haji dan Umrah RI

Ekonomi

Mualem dan DPRA Bahas Rancangan APBA 2026

Ekonomi

BSI Perkuat Pemulihan Pascabencana Lewat Pembangunan Hunian di Aceh, Sumut, dan NTB