ACEH BESAR — Secangkir kopi menyisakan ampas. Di Gampong Barabung, Aceh Besar, sisa itu tak lagi dipandang sebagai sampah. Universitas Syiah Kuala mengolahnya menjadi briket biomassa dan dupa wangi yang diproyeksikan sebagai produk bernilai ekonomi masyarakat.
Briket biomassa dikembangkan sebagai alternatif produk energi, sedangkan ampas kopi juga diolah menjadi dupa wangi. Dalam pembuatan briket, tim turut memanfaatkan sekam padi sebagai bahan baku lokal.
Ketua tim pengabdian, Riski Arifin, mengatakan pemanfaatan tersebut berangkat dari potensi limbah yang masih dapat diolah menjadi produk baru.
“Bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan,” ujar Riski di Aceh Besar, Jumat, 18 September 2026.
Bersama Rika Sri Utami, dan mahasiswa Teknik Industri USK, Riski mengembangkan Barabung Brewcraft tidak sebatas pada pengolahan limbah. Produk tersebut juga diarahkan memiliki identitas dan nilai ekonomi melalui konsep eco-souvenir yang mengangkat nama Gampong Barabung.
Briket dan dupa wangi dikemas dengan nuansa alami sehingga produk tidak hanya menjadi hasil pengolahan limbah, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan sebagai produk khas masyarakat setempat.
Sekretaris Desa Barabung, Heri Muliadi, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, kegiatan USK memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan dari USK karena memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat. Semoga pemanfaatan limbah seperti ini bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Heri.
Ke depan, Barabung Brewcraft diharapkan tidak berhenti sebagai inovasi pengabdian. Produk tersebut diarahkan untuk berkembang sebagai usaha lokal berbasis teknologi tepat guna, sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat dan mendorong pengelolaan limbah melalui konsep ekonomi sirkular.***
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









