Jakarta – Menjelang Hari Raya Idulfitri, Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui optimalisasi penyaluran kredit pangan guna menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan masyarakat selama Ramadan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen BI untuk memastikan inflasi tahun 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%, sekaligus menjaga daya beli masyarakat pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa stabilitas harga pangan memiliki peran sentral dalam menjaga ketenangan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri. Hal tersebut disampaikannya dalam keynote speech pada seminar bertajuk “Ramadan Tenang, Harga Terkendali: Optimalisasi Kredit Pangan untuk Stabilisasi Pasar” yang digelar di Jakarta, Senin (2/3).
Menurut Aida, peningkatan permintaan bahan pangan selama Ramadan berpotensi menimbulkan tekanan harga apabila tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, BI memperkuat sinergi kebijakan melalui pendekatan dari hulu hingga hilir, mulai dari pembiayaan sektor produksi, distribusi, hingga akses pembiayaan bagi pelaku usaha pangan.
“Kredit pangan menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar. Dengan dukungan pembiayaan yang memadai, pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas jaringan distribusi, sehingga gejolak harga dapat diminimalkan,” jelasnya.
BI juga terus mendorong perbankan untuk memperbesar porsi pembiayaan ke sektor pangan strategis, termasuk pertanian, peternakan, perikanan, serta industri pengolahan makanan. Optimalisasi kredit tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pasokan domestik, terutama untuk komoditas utama seperti beras, cabai, bawang, daging ayam, dan telur yang kerap menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan dan Idulfitri.
Selain aspek pembiayaan, pengendalian inflasi juga diperkuat melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), termasuk langkah konkret seperti operasi pasar, perluasan kerja sama antar daerah, serta pemantauan harga secara real time. Sinergi kebijakan moneter dan kebijakan pemerintah di sektor riil dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Lebih lanjut, Aida menekankan bahwa stabilitas harga bukan hanya soal angka inflasi, tetapi juga menyangkut rasa aman masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok. “Ramadan adalah momentum ibadah dan kebersamaan. Kita ingin masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga,” ujarnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI optimistis tekanan inflasi menjelang Idulfitri dapat dikelola dengan baik. Stabilitas harga yang terjaga diharapkan mampu menopang konsumsi rumah tangga sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan pertama 2026.
Ke depan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung stabilitas makroekonomi secara keseluruhan, sekaligus memastikan momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi penggerak aktivitas ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.(**)
Editor: Dahlan













