Home / Nasional

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:47 WIB

Kibarkan Marwah Aceh di Kanada, Keubitbit Tampil di Niagara Jazz Festival 2026

REDAKSI

Keubitbit ikut Jazz Festival 2026 di Kanada, salah satu festival jazz dan world music bergengsi di Amerika Utara.

Keubitbit ikut Jazz Festival 2026 di Kanada, salah satu festival jazz dan world music bergengsi di Amerika Utara.

Jakarta —  Di saat isu geopolitik dan identitas budaya menjadi perhatian dunia, grup ethno-jazz asal Aceh, Keubitbit, justru memilih menjawabnya melalui musik.

Ensemble yang dipimpin Safrullah (Aloel) itu akan mengibarkan marwah Aceh di Niagara Jazz Festival 2026 di Kanada, salah satu festival jazz dan world music bergengsi di Amerika Utara.

Keubitbit dijadwalkan tampil sebagai salah satu penampil utama dalam program World Music on the Beach selama dua hari, 4–5 Juli 2026. Rombongan berangkat ke Kanada pada 3 Juli dan kembali ke Indonesia pada 8 Juli 2026.

Undangan ini menjadi pencapaian internasional keenam yang diraih Keubitbit dalam tiga tahun terakhir, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai duta musik kultural Aceh yang semakin diperhitungkan di panggung dunia.

Namun, Keubitbit tidak datang hanya untuk memainkan musik.

Mereka membawa sebuah manifesto budaya bertajuk “Akulah Malaka Itu”, sebuah karya yang mengangkat Selat Malaka sebagai simbol peradaban dunia sekaligus menegaskan posisi Aceh sebagai gerbang sejarah yang selama berabad-abad mempertemukan bangsa, agama, budaya, dan perdagangan internasional.

Baca Juga :  Psikiater Mintarsih Ungkap Kalau Pulau Dijual, Masyarakat Akan Tambah Miskin

Melalui penggalan lirik, “Akulah Malaka yang teduh menopang bahtera dunia, salamku nahkoda. Tambatkan cinta, tepat di nadi zamrud khatulistiwa,” Keubitbit mengajak dunia melihat Aceh bukan sekadar wilayah di ujung Sumatra, tetapi sebagai ruang lahirnya nilai-nilai perdamaian, keterbukaan, dan kemanusiaan.

Bagi Keubitbit, ketika dunia dilanda konflik dan krisis identitas, Aceh memiliki warisan budaya yang mampu menjadi pesan perdamaian bagi peradaban global.

Di balik keberangkatan tersebut tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Keterbatasan dukungan menjelang keberangkatan nyaris menggagalkan misi budaya ini. Harapan kemudian hadir melalui solidaritas Diaspora Global Aceh.

Berawal dari komunikasi Aloel dengan Ketua Diaspora Global Aceh Chapter Skandinavia, Sayutinur, jaringan diaspora Aceh di berbagai negara bergerak bersama. Di bawah koordinasi Mustafa Abubakar, mereka bahu-membahu memastikan Keubitbit dapat tampil membawa nama Aceh di panggung dunia.

Baca Juga :  Lapas Perempuan Ternate Studi Tiru Dapur MBG ke Polres Ternate

Keberangkatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Surya Darma, yang menilai misi tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kehormatan budaya Aceh.

Foto :

Komitmen pemerintah pusat juga terlihat melalui dukungan Kementerian Kebudayaan RI sebagai sponsor utama. Dukungan tersebut diperkuat oleh sejumlah perusahaan nasional, di antaranya PT Mifa, PT BEL, PT Jamkrindo, Bank Syariah Indonesia (BSI), Peruri, dan MDB.

Selain itu, musisi nasional seperti Kadri Mohamad dan Yovie Widianto turut memberikan dukungan moral. Sementara musisi legendaris Aceh Rafly Kande terus mendampingi Keubitbit sebagai mentor dalam perjalanan regenerasi musik budaya Aceh.

Di tengah besarnya dukungan nasional dan internasional, masih ada catatan yang mengundang perhatian. Hingga menjelang keberangkatan, dukungan konkret dari Pemerintah Aceh dinilai belum sebanding dengan prestasi yang telah diukir Keubitbit.

Baca Juga :  Tiga Bupati Aceh Terpilih jadi Pengurus APKASI, Wagub Harap Dapat Bawa Daerah Istimewa Aceh Lebih Baik

Padahal, saat ini Keubitbit merupakan salah satu kelompok musik Aceh yang paling konsisten membawa identitas budaya daerah ke forum internasional. Mereka tidak hanya tampil, tetapi juga memperkenalkan sejarah, adat, dan nilai-nilai Aceh kepada masyarakat dunia melalui karya-karya musikal.

Penampilan di Niagara Jazz Festival menjadi bukti bahwa diplomasi budaya tidak selalu lahir dari ruang-ruang kekuasaan. Ia juga dapat lahir dari kreativitas seniman, kekuatan komunitas, dan solidaritas diaspora yang percaya bahwa budaya adalah wajah sebuah bangsa.

Dari tepian Selat Malaka hingga pesisir Niagara, Keubitbit akan memperdengarkan satu pesan yang sama: Aceh tidak hanya memiliki sejarah besar, tetapi juga masa depan besar di panggung kebudayaan dunia.[**]

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Nasional

Kapolda Sumsel Perkuat Sinergi Kamtibmas lewat Safari Ramadhan di DPRD

Daerah

PT PEMA Ajak 50 Anak Yatim Belanja dan Makan Bersama

Nasional

Gubernur Aceh Ikuti Retret Kepala Daerah se-Indonesia di Akmil Magelang

Hukum

Bareskrim Polri Musnahkan Ribuan Kilogram Bawang Impor Ilegal dari Jalur Tikus Perbatasan Malaysia

Nasional

Bupati Aceh Besar Ziarah ke Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

Nasional

Jadwal Contraflow, One Way dan Ganjil Genap Arus Mudik 2025 

Nasional

Bupati Aceh Besar Audiensi dengan Menkes, Bahas Percepatan Layanan Kesehatan

Nasional

Satgas Damai Cartenz Laksanakan Patroli dan Layanan Kesehatan di Pengungsian Gigobak Sinak, Wujud Nyata Kepedulian kepada Warga