Banda Aceh — Duka akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh kembali bertambah. Satu korban yang sebelumnya dilaporkan hilang akhirnya berhasil ditemukan, sehingga total jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di Aceh kini mencapai 561 orang.
Korban ditemukan pada Minggu (18/1/2026) setelah tim gabungan berhasil membersihkan material longsor setebal sekitar lima meter yang menimbun area lokasi kejadian. Penemuan tersebut terjadi tidak jauh dari rumah korban yang sebelumnya terdampak longsor.
Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh yang dilaporkan pada Senin (19/1/2026), korban diketahui bernama Razulon Irfan, warga Desa Jongok Meluem, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Korban dilaporkan hilang sejak bencana banjir dan tanah longsor melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
Proses pencarian korban memakan waktu cukup lama karena tebalnya material longsoran serta kondisi medan yang sulit. Tim SAR gabungan harus bekerja ekstra hati-hati demi keselamatan personel sekaligus memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun.
Data terbaru Pos Komando Tanggap Darurat yang diperbarui pada Minggu (18/1/2026) pukul 20.00 WIB mencatat, selain 561 korban meninggal dunia, hingga kini masih terdapat 30 orang yang dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Sementara itu, jumlah korban luka akibat bencana ini juga tergolong besar. Tercatat sebanyak 4.939 orang mengalami luka ringan, sedangkan 456 orang lainnya menderita luka berat dan masih menjalani perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan.
Dampak bencana juga masih dirasakan oleh puluhan ribu warga Aceh yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Hingga saat ini, terdapat 988 titik pengungsian yang menampung 24.426 kepala keluarga (KK) atau sekitar 91.962 jiwa.
Sebelumnya, Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, menegaskan bahwa upaya pencarian korban banjir dan tanah longsor di Aceh tetap dilakukan secara maksimal seiring dengan diperpanjangnya masa tanggap darurat bencana.
“Proses pencarian korban masih terus dilaksanakan sesuai dengan perpanjangan masa tanggap darurat. Pencarian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembersihan material bencana,” ujar Harris saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan, fokus pencarian diarahkan ke wilayah-wilayah yang masih tercatat memiliki korban hilang. Basarnas bersama unsur terkait memastikan pencarian tetap berjalan aktif dan tidak dihentikan meskipun bersamaan dengan kegiatan penanganan bencana lainnya.
“Kami tidak mengenal istilah pencarian pasif. Selama masih ada data korban hilang, pencarian akan terus dilakukan,” tegasnya.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh ini menjadi salah satu bencana terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat serta menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam. (*)
Editor: Dahlan












