Home / Opini

Senin, 29 Juni 2026 - 20:05 WIB

​Mengadili Keadilan Sistem Pendidikan Kita

REDAKSI

Penulis bersama mahasiswa

Penulis bersama mahasiswa

Oleh:

Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si.

Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana USK, Aceh Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh.

BESOK, Selasa 30/6/2026, ribuan calon mahasiswa akan menyaksikan sebuah pengumuman yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik di layar gawai. Namun, dampaknya akan dikenang bertahun-tahun oleh banyak keluarga.

Ada yang akan bersorak penuh syukur. Ada yang akan terdiam menahan air mata.

Tetapi sesungguhnya, yang sedang diuji hari ini bukan hanya calon mahasiswa. Yang sedang diadili adalah keadilan sistem pendidikan Indonesia.

Seleksi Mandiri bukan sekadar proses memilih siapa yang diterima. Ia juga menjadi cermin tentang seberapa besar negara mampu memenuhi hak konstitusional rakyat untuk memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu dan berkeadilan.

Baca Juga :  RAQAN Bukan untuk Mengisi Periuk Kekuasaan

Calon mahasiswa diuji kecerdasan, ketekunan, dan mental juangnya.

Orang tua diuji kebijaksanaan serta kemampuannya menerima kenyataan bahwa cinta kepada anak tidak boleh bergantung pada nama kampus tempat mereka diterima.

Perguruan tinggi diuji integritasnya untuk tetap menjunjung mutu, bukan semata-mata logika pasar.

Dan pemerintah diuji keberpihakannya kepada masa depan generasi muda, bukan sekadar keberhasilan menyelenggarakan seleksi.

Kita harus berani mengakui kenyataan. Masalah terbesar pendidikan tinggi Indonesia bukan karena terlalu banyak anak yang gagal, melainkan karena terlalu sedikit ruang berkualitas yang disediakan bagi mereka yang layak berhasil.

Baca Juga :  Jangan Bicara Tentang Aceh Jika Tak Punya Ilmu

Setiap tahun lahir ribuan lulusan SMA yang cerdas, berprestasi, dan penuh mimpi. Namun kapasitas perguruan tinggi negeri yang terbatas membuat banyak di antara mereka tersingkir, bukan karena tidak mampu, melainkan karena sistem belum mampu menampung potensi mereka.

Lebih menyedihkan lagi apabila kesempatan memperoleh pendidikan semakin ditentukan oleh kemampuan ekonomi.

Apabila pendidikan berubah menjadi komoditas yang hanya mudah diakses oleh mereka yang mampu membayar, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan seorang anak, tetapi masa depan keadilan sosial bangsa.

Baca Juga :  Ketika Nasib Guru Ditentukan Mereka Yang Tidak Pernah Menjadi Guru

Kepada adik-adik yang dinyatakan lulus, selamat. Bersyukurlah, tetapi jangan pernah merasa lebih hebat daripada mereka yang belum berhasil. Kelulusan bukan mahkota kesombongan, melainkan amanah untuk terus belajar, menjaga integritas, serta mengabdikan ilmu bagi masyarakat.

Kepada adik-adik yang belum memperoleh kesempatan tahun ini, jangan pernah menganggap diri gagal. Hari ini Anda mungkin kalah dalam seleksi, tetapi bukan kalah dalam kehidupan.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Opini

Jangan Bicara Tentang Aceh Jika Tak Punya Ilmu

Opini

RAQAN Bukan untuk Mengisi Periuk Kekuasaan

Opini

Ketika Nasib Guru Ditentukan Mereka Yang Tidak Pernah Menjadi Guru