Banda Aceh – BNPB dan BPBD Kota Banda Aceh terus memperkuat implementasi program Sekolah Tangguh Bencana (STB) melalui edukasi mitigasi dan sosialisasi kebencanaan yang kini mulai diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan.
Program ini bertujuan membangun kesadaran dan kesiapsiagaan sejak dini bagi para pelajar dalam menghadapi berbagai potensi bencana, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, hingga kebakaran.
BPBD Kota Banda Aceh menyebutkan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menciptakan masyarakat yang tangguh bencana, dimulai dari lingkungan sekolah sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan karakter.
Melalui program ini, siswa tidak hanya diberikan pemahaman teori mengenai kebencanaan, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi evakuasi, pelatihan tanggap darurat, serta pengenalan jalur penyelamatan dan titik kumpul aman di lingkungan sekolah.
Kepala BPBD Kota Banda Aceh Cut Ahmad Putra menegaskan bahwa edukasi kebencanaan harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan, khususnya di daerah rawan bencana seperti Aceh.
“Edukasi mitigasi bencana di sekolah bukan lagi sekadar program tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Kami terus mendorong agar materi kebencanaan terintegrasi dalam kurikulum, sehingga siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melindungi diri saat terjadi bencana,” ujarnya pada 22 Mei 2026 via WhatsApp.
Ia menambahkan, keberhasilan program Sekolah Tangguh Bencana sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak sekolah, guru, serta orang tua siswa.
“Dengan keterlibatan semua pihak, kita berharap dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dan siap menghadapi risiko bencana. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan bersama,” tambahnya.
BPBD Kota Banda Aceh juga terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan program secara berkala, termasuk memperluas jangkauan sosialisasi ke lebih banyak sekolah serta memperbarui metode pembelajaran yang lebih interaktif dan mudah dipahami oleh siswa.
Upaya ini diharapkan mampu menekan risiko korban jiwa serta kerugian akibat bencana, sekaligus memperkuat budaya sadar bencana di tengah masyarakat sejak usia dini. (ADV)
Editor: Redaksi









