Padang — Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.A., resmi ditunjuk sebagai Ketua Forum Komunikasi Program Studi Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia.
Penetapan tersebut menjadi salah satu keputusan strategis dalam perhelatan Forum Direktur Pascasarjana (FORDIPAS) ke-13 dan International Conference on Islamic Studies (INCOILS) ke-6 yang berlangsung di Hotel ZHM Premiere Padang, Sumatera Barat.
Forum Komunikasi ini dibentuk sebagai ruang kolaborasi antarpengelola program studi untuk menjawab tantangan persaingan global, akselerasi mutu akademis, hingga pengembangan kelembagaan pascasarjana di tengah lanskap pendidikan tinggi yang terus berubah.
Tiga Tantangan Utama Pendidikan Tinggi Islam
Dalam forum internasional yang dibuka oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani, M.A., menyoroti tiga hambatan krusial yang masih membayangi perguruan tinggi Islam saat ini:
Rigiditas Kelembagaan: Sikap kaku dan keterikatan berlebih pada aturan lama yang membuat lembaga lambat beradaptasi dengan perubahan zaman serta kemajuan teknologi.
Kesiapan Metodologis Mahasiswa: Khususnya pada jenjang doktoral, mahasiswa dituntut memiliki ketajaman metodologi dalam menghadapi desain penelitian modern yang kian kompleks.
Kesenjangan Sumber Daya Akademik: Tradisi keilmuan yang masih terkotak-kotak (silo mentality) perlu digeser menuju budaya riset lintas disiplin.
Dari Interdisipliner Menuju Transdisipliner
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Eka Srimulyani dalam paparannya bertajuk “Knowledge Integration, Trend Dynamic, and Prospect” menegaskan pentingnya pergeseran paradigma dalam Studi Islam.
”Studi Islam tidak cukup berhenti pada pendekatan interdisipliner, tetapi perlu bergerak menuju transdisipliner,” tegas Eka.
Melalui pendekatan transdisipliner, Studi Islam didorong untuk berinteraksi langsung dengan disiplin ilmu sains, teknologi, kedokteran, hingga ilmu sosial. Langkah ini dinilai vital agar kajian Islam tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret atas krisis kemanusiaan dan lingkungan hidup.
Eka juga menggarisbawahi pentingnya mempertahankan otoritas intelektual lokal. “Adopsi metodologi dari tradisi orientalis perlu dikritisi secara akademik agar tidak meminggirkan epistemologi lokal serta otoritas intelektual ulama dan tradisi keilmuan Muslim Indonesia,” tambahnya.
Peluang Era Digital dan kecerdasan Buatan (AI)
Perkembangan teknologi digital, seperti digitalisasi manuskrip, digital humanities, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam penelitian, membuka gerbang baru bagi Studi Islam di tingkat global.
Pascasarjana UIN Ar-Raniry mendorong agar pendidikan tinggi tidak sekadar menjadi ruang reproduksi teori, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium akademik berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan FORDIPAS ke-13 dan INCOILS ke-6 ini turut dihadiri pakar internasional, di antaranya Prof. Dr. Jiwon Suh (Korea Selatan), Dr. Yahya Jahan Giri (Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Iran Jakarta), serta Prof. Dr. Phil. Asfa Widianto, M.A. Delegasi UIN Ar-Raniry dipimpin langsung oleh jajaran pimpinan Pascasarjana untuk memperluas jejaring riset dan kerja sama internasional.
Editor: Redaksi









