LOMBOK TENGAH — Kebakaran hebat melanda kawasan wisata rumah adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu malam. Sejumlah armada pemadam kebakaran dan penyelamatan (Damkartan) gabungan dikerahkan ke lokasi untuk menanggulangi kobaran api.
Kepala Dinas Damkartan Kabupaten Lombok Tengah, Supardan, mengonfirmasi bahwa penanganan kebakaran terus berlangsung hingga tengah malam lantaran bara api masih menyala. Bantuan armada diterjunkan secara masif, melibatkan seluruh unit Damkartan Lombok Tengah serta dukungan unit pemadam dari Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, dan Pemerintah Provinsi NTB.
Terkait jumlah bangunan terbakar dan warga terdampak, Supardan menyatakan data resminya masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan.
Sementara itu, Kepala Desa Rambitan, Lalu Winakse, menyampaikan bahwa peristiwa kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 WITA. Penyebab pasti munculnya api hingga saat ini belum dapat dipastikan.
“Kami sedang melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak kebakaran,” ujar Lalu Winakse. Ia juga mengoperasionalkan perkiraan sementara bahwa jumlah rumah yang terbakar diperkirakan mencapai ratusan unit.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, titik api pertama kali terlihat muncul dari salah satu rumah yang berada di tengah permukiman adat. Api dengan cepat merembet ke bangunan lain karena mayoritas rumah warga memanfaatkan bahan yang mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang.
Insiden tersebut membuat warga kampung adat Sade berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri beserta barang-barang berharga. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini.
Dusun Sade sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman tradisional Suku Sasak yang dihuni sekitar 700 warga dalam satu garis keturunan dengan total kurang lebih 150 bangunan rumah. Bangunan di kawasan wisata ini memiliki arsitektur khas berupa atap jerami, dinding anyaman bambu, serta lantai tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami.
Editor: Dahlan











