Home / Daerah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 22:17 WIB

YLI Paparkan Hasil Studi Kesuburan Tanah Kopi Gayo, Aceh Tengah Tercatat Rendah

Redaksi

Yayasan Leuser Internasional (YLI) bersama akademisi dan pemangku kepentingan memaparkan hasil studi kesuburan tanah perkebunan kopi Gayo dalam kegiatan sosialisasi di kantor YLI Wih Pesam, Bener Meriah, Kamis (12/3/2026).

Yayasan Leuser Internasional (YLI) bersama akademisi dan pemangku kepentingan memaparkan hasil studi kesuburan tanah perkebunan kopi Gayo dalam kegiatan sosialisasi di kantor YLI Wih Pesam, Bener Meriah, Kamis (12/3/2026).

Bener Meriah – Yayasan Leuser Internasional (YLI) menggelar sosialisasi hasil baseline survey atau studi awal terkait kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati pada perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh. Kegiatan yang berlangsung di kantor YLI Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, ini menjadi langkah awal dalam upaya memperbaiki praktik budidaya kopi arabika Gayo agar lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sosialisasi yang digelar pada Kamis, 12 Maret 2026 tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, akademisi, lembaga penelitian, hingga perwakilan sektor swasta dan koperasi kopi. Pertemuan ini bertujuan memaparkan kondisi awal kesehatan tanah di kawasan perkebunan kopi Gayo sekaligus menjadi dasar untuk merancang langkah perbaikan praktik pertanian di tingkat petani.

Ketua Pengurus YLI, Said Fauzan Baabud, menegaskan bahwa studi ini tidak semata-mata menitikberatkan pada peningkatan produksi kopi, tetapi juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan ekologi serta kesehatan tanah sebagai fondasi utama pertanian.

Menurutnya, keberhasilan perkebunan kopi dalam jangka panjang sangat bergantung pada kondisi tanah yang sehat dan sistem budidaya yang selaras dengan alam.

“Studi ini diharapkan menjadi langkah penting untuk memperbaiki praktik budidaya kopi. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan tanah dan keberlanjutan ekologi perkebunan kopi arabika Gayo,” ujar Said Fauzan Baabud dalam pemaparannya, Jumat (13/3/2026).

Baca Juga :  Perkuat Koordinasi Pelayanan Samsat, Dirlantas Polda Aceh Kunjungi Kepala BPKA

Hasil penelitian yang dipaparkan oleh Dr. Muyassir dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah di wilayah perkebunan kopi Gayo masih bervariasi. Untuk wilayah Kabupaten Bener Meriah, kondisi kesuburan tanah secara umum masih berada pada tingkat sedang. Namun, kondisi berbeda ditemukan di Kabupaten Aceh Tengah, di mana sebagian besar lokasi penelitian menunjukkan tingkat kesuburan tanah yang tergolong rendah.

Studi yang dilakukan pada pertengahan tahun 2025 tersebut juga mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi kesuburan tanah di perkebunan kopi Gayo. Beberapa di antaranya adalah masih minimnya jumlah pohon penaung di kebun kopi, jarak tanam pohon penaung yang belum ideal, serta penggunaan herbisida dan pupuk kimia secara berlebihan oleh sebagian petani.

Selain itu, penelitian ini juga menyoroti masih terbatasnya pemahaman petani mengenai praktik budidaya kopi yang baik, terutama yang berbasis organik dan ramah lingkungan.

Penelitian tersebut dilakukan melalui analisis menyeluruh terhadap berbagai indikator kesuburan tanah, mencakup aspek biologis, fisik, maupun kimia. Proses pengambilan sampel dilakukan di enam desa di Kabupaten Aceh Tengah dan sembilan desa di Kabupaten Bener Meriah.

Total terdapat 60 titik sampel tanah yang dianalisis, dengan masing-masing 30 plot kebun kopi di setiap kabupaten. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.

Baca Juga :  Tiba di Aceh, Sekda Nasir Sambut Kedatangan Pimpinan dan Anggota Banleg DPR RI

Wahyuddin, perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Tengah, menyambut baik hasil penelitian tersebut. Ia menilai studi ini dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengembangan kopi yang lebih berkelanjutan di wilayah dataran tinggi Gayo.

“Hasil studi ini sangat bermanfaat sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan kopi yang berkelanjutan di Aceh Tengah dan Bener Meriah, termasuk memperkuat peran pemerintah daerah dalam memperbaiki praktik budidaya kopi sampai ke tingkat petani,” ujarnya.

Sementara itu, Win Temas Miko dari Universitas Gajah Putih (UGP) menilai penelitian ini memiliki nilai strategis dalam pengembangan pertanian kopi di kawasan Gayo. Menurutnya, data yang dihasilkan dari studi tersebut dapat menjadi acuan ilmiah dalam memahami pengaruh kerapatan pohon penaung terhadap kesuburan tanah.

Ia juga menyoroti potensi pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai bahan pupuk organik yang dapat membantu memperbaiki kualitas tanah di perkebunan kopi.

“Penelitian ini sangat menarik karena bisa menjadi acuan untuk memahami pengaruh kerapatan penaung bagi kesuburan tanah, sekaligus mendorong pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai pupuk organik,” kata Win Temas Miko.

Baca Juga :  Ketua Staf Ahli TP-PKK Aceh Lakukan Kunjungan Kerja ke Bener Meriah dan Aceh Tengah

Kegiatan sosialisasi ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Leuser Internasional dengan para tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang dipimpin oleh Dr. Ir. Muyassir. Program penelitian tersebut juga mendapat dukungan dari Livelihoods Funds yang berfokus pada pengembangan praktik pertanian berkelanjutan.

Selain dihadiri oleh unsur pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Gayo, Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih, sejumlah produsen kopi swasta, koperasi kopi, serta Yayasan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG).

Para koordinator lapangan proyek agroforestri kopi LCF3 yang dikelola YLI juga turut hadir dalam kegiatan tersebut, guna memperkuat koordinasi dan implementasi program di lapangan.

Melalui kegiatan ini, YLI berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama dalam mendorong penerapan sistem agroforestri dan praktik budidaya kopi yang lebih berkelanjutan, sehingga kualitas tanah tetap terjaga dan produksi kopi Gayo dapat terus berkembang tanpa merusak lingkungan.

Acara sosialisasi tersebut kemudian ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama sebagai bentuk mempererat silaturahmi dan memperkuat kolaborasi antar pihak dalam mendukung keberlanjutan kopi arabika Gayo yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan Aceh di pasar nasional maupun internasional. (Rifan)

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Daerah

Wujud Kepedulian, Klinik Pratama Adhyaksa Kejati Aceh Gelar Layanan Kesehatan Gratis

Daerah

Gubernur Aceh Dorong Universitas Al-Muslim Jadi Pusat Inovasi dan Penggerak SDM Unggul

Daerah

Ketua SPS Aceh hadiri Acara Penobatan UMKM Binaan PEMA

Daerah

DAHSYAT! Daun Biasa Pulau Weh Disulap Jadi ‘Emas Hijau’ Bernilai Jutaan: Kebangkitan Ekonomi Perempuan Sabang di Tengah Pandemi

Daerah

Kak Na Ajak: Inovasi Penting untuk Bersaing di tingkat Global

Daerah

Lagi, Pangdam Iskandar Muda Terima dua pucuk senjata Api sisa konflik dari Warga

Daerah

Dua Bulan Pasca Banjir Bandang, Warga Tepin Pukat Masih Krisis Air Bersih

Daerah

Awi Juli Dukung Sidak DPRK, Minta Penimbun Bantuan Diadili