Banda Aceh – Suasana di kawasan Pendopo Gubernur Aceh atau Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (18/2/2026), berubah menjadi lautan manusia. Sejak pagi hari, ribuan warga dari berbagai daerah di Aceh telah memadati halaman dan badan jalan di sekitar pendopo untuk mendapatkan uang meugang dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.
Tradisi meugang yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Aceh selalu menghadirkan momen penuh harap menjelang Ramadhan. Tahun ini, antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Sejak pukul 08.00 WIB, masyarakat sudah berkumpul di luar pagar Meuligoe. Jumlahnya terus bertambah hingga memenuhi akses jalan di sekitar lokasi.
Menjelang waktu zuhur, suasana semakin dinamis. Petugas keamanan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlihat bersiaga mengatur ketertiban warga. Setelah salat zuhur, gerbang pendopo akhirnya dibuka dan masyarakat dipersilakan masuk secara bergiliran ke dalam area pendopo.
Mira Husadi, salah satu anggota Satpol PP yang bertugas mengamankan kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa seluruh warga yang hadir diberikan kesempatan masuk tanpa terkecuali.
“Selesai zuhur seluruh masyarakat yang hadir memang dipersilakan masuk ke area pendopo. Masing-masing oleh staf pendopo dibagikan uang Rp100 ribu untuk dewasa dan Rp20 ribu untuk anak-anak,” ujar Mira.
Ia menegaskan, pembagian dilakukan merata kepada semua warga yang hadir saat itu. Tidak ada pembatasan ataupun pengecualian.
“Habis zuhur tadi semua diberikan tanpa terkecuali, semua juga diperbolehkan masuk,” tambahnya.
Di dalam area pendopo, pembagian berlangsung relatif tertib meski jumlah warga sangat banyak. Staf pendopo terlihat sigap membagikan uang secara langsung kepada masyarakat yang telah antre. Warga tampak bersyukur menerima bantuan tersebut, yang bagi sebagian orang sangat berarti untuk membeli daging meugang menjelang bulan suci.
Namun, setelah proses pembagian selesai, gerbang pendopo kembali ditutup dan area disterilkan. Penutupan itu, menurut Mira, dilakukan demi menjaga ketertiban dan mencegah adanya dugaan penerimaan ganda.
“Ada dugaan yang telah mendapatkan uang kembali mencoba mengambil jatah lagi, makanya gerbang langsung kita tutup dan kita amankan,” jelasnya.
Penutupan gerbang sempat membuat sebagian warga yang masih berada di luar pagar bertahan di lokasi. Beberapa di antaranya mengaku belum menerima bagian, sementara ada juga yang telah mendapatkan uang namun tetap menunggu anggota keluarganya yang belum memperoleh jatah.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan dirinya telah menerima Rp100 ribu, tetapi masih bertahan di depan pendopo karena anaknya belum mendapatkan uang Rp20 ribu sebagaimana dijanjikan.
“Saya sudah dapat, tapi anak saya belum. Jadi masih tunggu,” ujarnya singkat.
Sulaiman, seorang penjual minuman yang berjualan di sekitar lokasi, membenarkan bahwa gerbang dibuka setelah zuhur dan seluruh warga yang hadir dipersilakan masuk.
“Selesai zuhur memang gerbang dibuka, semua yang hadir masuk ke dalam,” katanya.
Tradisi meugang sendiri merupakan momentum penting bagi masyarakat Aceh menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada momen ini, masyarakat biasanya membeli dan mengolah daging untuk disantap bersama keluarga. Bantuan uang meugang dari pemerintah daerah menjadi salah satu bentuk perhatian kepada warga, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.
Meski sempat terjadi kepadatan dan dugaan penerimaan ganda, secara umum kegiatan pembagian uang meugang di Pendopo Gubernur Aceh berlangsung aman dan terkendali di bawah pengawasan aparat. Setelah proses selesai, situasi berangsur normal dan arus lalu lintas di sekitar kawasan kembali lancar.
Momentum ini kembali memperlihatkan besarnya harapan masyarakat terhadap pemimpinnya, sekaligus menjadi cerminan kuatnya nilai kebersamaan dan tradisi yang terus dijaga di Tanah Rencong menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.(**)
Editor: Dahlan









