Banda Aceh – Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah, mendorong pihak swasta untuk lebih proaktif dalam menyerap tenaga kerja guna menekan angka pengangguran di Ibu Kota Provinsi Aceh. Saat ini, tingkat pengangguran di Banda Aceh tercatat masih sangat tinggi, bahkan telah melampaui angka pengangguran nasional.
Dalam keterangannya pada Minggu (8/3/2026), politisi muda PKS tersebut menegaskan bahwa penuntasan masalah pengangguran merupakan tanggung jawab kolektif antara Pemerintah Kota, DPRK, dan sektor swasta.
“Untuk menyelesaikan pengangguran, maka pihak swasta harus ikut berkontribusi, karena sektor swastalah yang saat ini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak,” ujar Irwansyah.
Kritik Terhadap Penyaluran KUR dan Paradoks UMKM
Irwansyah juga menyoroti adanya kondisi paradoks di Banda Aceh. Meski data menunjukkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah disalurkan kepada puluhan ribu pelaku UMKM, namun angka pengangguran di lapangan tidak kunjung menurun. Ia mempertanyakan efektivitas bantuan tersebut dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Selain itu, ia meminta pihak perbankan mempermudah syarat pembiayaan bagi pengusaha pemula.
Kendala Pengalaman: Selama ini KUR mewajibkan adanya pengalaman usaha.
Logika Kebijakan: Irwansyah mempertanyakan bagaimana pengusaha baru bisa memiliki pengalaman jika mereka baru saja didorong untuk memulai usaha demi menekan pengangguran.
Tantangan SDM: Ribuan Lulusan vs Kesiapan Kerja
Kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja juga menjadi sorotan. Meski perguruan tinggi meluluskan ribuan alumni setiap tahun, serapan tenaga kerja tetap minim.
Senada dengan hal itu, Ketua Komisi II DPRK, M Zidan Al Hafidh, menekankan pentingnya pendampingan agar usaha potensial bisa “naik kelas”. Zidan juga menyoroti karakteristik Gen Z yang dinilai cepat bosan di dunia kerja karena terpapar banyak informasi namun tidak mendalam.
Dari sudut pandang pemberi kerja, pelaku usaha di sektor perhotelan mengungkapkan beberapa catatan penting mengenai kualitas SDM muda, di antaranya:
Rendahnya tingkat kegigihan dan loyalitas.
Kurangnya jiwa hospitality (keramahtamahan).
Bahkan, membiasakan budaya senyum kepada pelanggan masih menjadi tantangan besar.
Lulusan Siap Pakai Namun Minim Serapan
Di sisi lain, Kepala BPVP Aceh, Rahmad Faisal, menyatakan bahwa pihaknya menyediakan 12 jurusan pelatihan (seperti las, barista, hingga pembuatan kue) yang lulusannya sudah tersertifikasi dan siap kerja sesuai kebutuhan pasar.
Namun, catatan BPVP menunjukkan fakta memprihatinkan: hanya sebagian kecil lulusan pelatihan yang terserap ke dunia kerja, sementara sisanya tidak diketahui arah tujuannya. Pihak BPVP berkomitmen untuk terus memodernisasi program pelatihan guna menjawab tantangan ini.
Editor: Redaksi









