Jakarta – Keputusan Iran membuka kembali Selat Hormuz di tengah masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat telah memicu penurunan harga minyak dunia. Namun, fenomena global ini belum berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di tanah air. Sebaliknya, PT Pertamina (Persero) terpantau melakukan penyesuaian harga yang cenderung meningkat di beberapa wilayah, termasuk DKI Jakarta.
Khusus untuk Kawasan Bebas Pelabuhan Sabang, berlaku harga khusus yang lebih rendah:
Pertamax: Rp11.550/liter.
Dexlite: Rp22.150/liter.
Pertamax (Pertashop): Rp11.450/liter.
Lonjakan Harga di DKI Jakarta
Berbeda dengan Aceh, wilayah DKI Jakarta justru mengalami kenaikan harga yang cukup tajam untuk kategori BBM non-subsidi dibandingkan periode 1 April 2026:
Pertamax Turbo: Kini Rp19.400 (sebelumnya Rp13.100).
Dexlite: Kini Rp23.600 (sebelumnya Rp14.200).
Pertamina Dex: Kini Rp23.900 (sebelumnya Rp14.500).
Catatan: Harga Pertamax (RON 92) tetap di angka Rp12.300 dan Pertamax Green Rp12.900.
Mengapa Harga Domestik Berbeda dengan Harga Global?
Meskipun sentimen global dari pembukaan Selat Hormuz bersifat positif bagi pasokan energi, harga BBM di Indonesia tidak serta-merta mengikuti dinamika tersebut karena beberapa faktor:
Mekanisme Penetapan Harga: Penentuan harga BBM non-subsidi menggunakan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu, sehingga dampak penurunan global memerlukan waktu untuk terefleksi secara nyata.
Faktor Ekonomi Makro: Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sangat memengaruhi biaya pengadaan.
Operasional: Biaya distribusi serta kebijakan pemerintah terkait subsidi energi nasional.
Sentimen positif dari dibukanya rute distribusi energi dunia di Selat Hormuz memberikan harapan bagi stabilitas energi global. Namun, untuk pasar domestik, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam penggunaan energi sambil memantau kebijakan pemerintah dan Pertamina lebih lanjut. (**)
Editor: Redaksi









