Banda Aceh — Suasana Taufik Kupi di Jalan Pocut Baren, Banda Aceh, tampak tak biasa pada Minggu (2/8) pagi menjelang siang. Di tengah kepul aroma khas kopi Aceh yang baru diseduh, puluhan jurnalis dari pelbagai lintas media berkumpul cair, meleburkan sekat profesi dan jabatan di atas meja yang sama.
Pertemuan informal yang diinisiasi oleh anggota DPR RI asal Aceh, H. T. Ibrahim—yang akrab disapa Ampon Bram—tersebut berlangsung penuh kehangatan sejak pukul 10.30 WIB. Tanpa protokol kaku atau podium formal, diskusi mengalir begitu saja, diselingi canda tawa namun tetap berbobot.
Di balik suasana santai khas warung kopi Aceh, serangkaian isu strategis—mulai dari dinamika politik nasional hingga persoalan krusial daerah—menjadi sajian utama diskusi. Ampon Bram merespons tiap cecaran pertanyaan wartawan secara lugas dan komunikatif.
Soroti Kasus TPPU hingga Polemik Blang Padang
Salah satu topik hangat nasional yang mencuat di meja diskusi adalah perkembangan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menyeret nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, termasuk kabar mengenai kematian kepala rumah tangga yang dikaitkan dalam perkara tersebut.
Tak hanya menatap isu pusat, perbincangan beralih menajam pada persoalan lokal yang menyedot perhatian masyarakat Serambi Mekkah, salah satunya status tanah wakaf Blang Padang.
Menurut Ampon Bram, langkah penyelesaian melalui isbat wakaf yang diinisiasi Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, dinilai sebagai jalan hukum untuk memberikan kepastian status aset yang telah lama menjadi perdebatan.
Sapu Bersih Peredaran Narkoba
Isu krusial lain yang meletup dalam tatap muka tersebut adalah darurat peredaran narkoba. Politisi asal Aceh ini menegaskan pentingnya komitmen tanpa kompromi dalam memberantas barang haram tersebut hingga ke akar-akarnya.
Ampon Bram menyoroti perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap seluruh pihak yang terlibat, termasuk apabila terdapat oknum aparat sebagaimana muncul dalam sejumlah pengungkapan kasus di Bireuen maupun Jakarta.
Melalui diskusi tanpa sekat ini, kehangatan secangkir kopi berhasil menjembatani aspirasi publik, hukum, dan wacana politik nasional dalam satu meja yang setara.
Editor: Redaksi









