Home / Ekonomi

Selasa, 1 September 2026 - 10:39 WIB

Mangrove Lampulo Jadi Sumber Inspirasi Ekonomi Kreatif Lewat Ecoprint

REDAKSI

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat USK bersama PEMANGKU menggelar pelatihan teknik ecoprint di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Senin (31/8/2026).

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat USK bersama PEMANGKU menggelar pelatihan teknik ecoprint di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Senin (31/8/2026).

BANDA ACEH — Ekosistem mangrove di kawasan pesisir menyimpan potensi besar yang tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan sumber inspirasi ekonomi kreatif. Potensi ini mulai dioptimalkan melalui pelatihan teknik ecoprint yang berlangsung di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Senin (31/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Ecoprint Mangrove sebagai Media Edukasi dalam Pengembangan Ekowisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Konservasi di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh” ini diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Pembangunan Berkelanjutan (PKMBPB) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (PEMANGKU).

Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan teknik pembuatan motif kain menggunakan pigmen, bentuk, serta tekstur alami tumbuhan. Metode ini diterapkan sebagai sarana interaktif untuk mengenalkan karakteristik vegetasi mangrove kepada masyarakat.

Baca Juga :  WTP dan Digitalisasi Perkuat Kepercayaan Publik pada Bank Aceh Syariah

Ketua Tim PKMBPB, Harum Farahisah, menjelaskan bahwa inovasi ecoprint dihadirkan untuk memberikan pengalaman baru bagi para pengunjung.

“Melalui ecoprint, masyarakat dapat mengenal mangrove dari sisi yang berbeda. Tumbuhan yang selama ini dipahami terutama dari fungsi ekologisnya juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya kreatif,” kata Harum.

Ia menambahkan, program ini bertujuan memperluas daya tarik wisata di Mangrove Park Lampulo. Pengunjung kelak tidak hanya sekadar menikmati pemandangan alam, melainkan juga memperoleh pengalaman belajar langsung dan menghasilkan karya seni yang ramah lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, peserta terlebih dahulu menerima pemaparan materi mengenai karakteristik mangrove, prinsip dasar ecoprint, serta teknik pembuatannya. Sesi teori kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung, di mana peserta menyusun material tumbuhan di atas kain hingga proses pemindahan pigmen alami selesai.

Baca Juga :  Pedagang Curhat ke Wagub Fadhlullah: Harga Bergerak Naik, Daya Beli Berkurang

Meski berfokus pada hasil karya kreatif, aspek konservasi tetap menjadi prioritas utama. Penyelenggara menekankan pentingnya pemanfaatan bahan alam secara bijaksana agar aktivitas pembuatan ecoprint tidak merusak keberlanjutan vegetasi mangrove di kawasan tersebut.

Sebagai langkah keberlanjutan, Tim PKMBPB menyerahkan paket peralatan dan bahan ecoprint kepada pihak PEMANGKU. Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara mandiri untuk mendukung penyediaan paket wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) di Mangrove Park Lampulo.

Harum menilai keberhasilan jangka panjang program ini sangat bergantung pada peran aktif mitra lokal. PEMANGKU diharapkan dapat mengemas konsep ecoprint agar sesuai dengan minat pengunjung serta potensi khas kawasan tersebut.

Baca Juga :  Ekonomi Aceh Triwulan II-2026 Tumbuh 4,86 Persen Ditopang Sektor Konstruksi dan Konsumsi

“Pengunjung tidak hanya datang melihat kawasan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar dan menghasilkan karya yang dapat menjadi kenang-kenangan dari pengalaman mereka,” pungkasnya.

Inisiatif ini menjadi pendekatan alternatif untuk meningkatkan nilai tambah kawasan konservasi. Mangrove kini tidak hanya diposisikan sebagai pelindung ekosistem pesisir, tetapi juga ruang pembelajaran dan wadah kreativitas masyarakat.

Adapun Tim PKMBPB USK dalam kegiatan ini diketuai oleh Harum Farahisah, dengan anggota Khairunnisa, Ulil Amri, Siti Hijrah Happy Akasi, dan M. Abdul Mahlil.

Melalui pengembangan ecoprint, pemanfaatan mangrove diharapkan dapat semakin erat dengan kehidupan masyarakat melalui kegiatan yang edukatif, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis konservasi di Banda Aceh.

Penulis : Nazarullah

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Perkuat Gerbang Pembayaran Nasional, BSI Luncurkan Hasanah KKI Card

Ekonomi

BI: Ekonomi Aceh Mulai Bangkit Usai Tekanan Sepanjang 2025

Ekonomi

Bank Aceh Buka Rekrutmen ODP untuk Tiga Posisi Strategis Hingga 23 Agustus 2026

Daerah

DAHSYAT! Daun Biasa Pulau Weh Disulap Jadi ‘Emas Hijau’ Bernilai Jutaan: Kebangkitan Ekonomi Perempuan Sabang di Tengah Pandemi

Ekonomi

Harga Emas Antam Turun Rp40 Ribu, Buyback Ikut Melemah

Aceh

Penyaluran Dana Desa 2026 di Aceh Capai Rp1,45 Triliun, Sembilan Daerah Tuntas 100 Persen

Ekonomi

Harga Emas Antam Anjlok Rp100 Ribu, Buyback Turun Tajam Ikuti Kejatuhan Emas Dunia

Aceh Besar

Harga Daging di Pasar Induk Lambaro Masih Stabil Jelang Idul Adha