Jakarta — Muktamar VIII Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi sekaligus menjaga keberlangsungan organisasi di tengah dinamika internal yang masih berlangsung.
Muktamar tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kembali kebersamaan melalui semangat islah atau rekonsiliasi.
Dalam keterangannya di sela-sela Muktamar, Mayjen TNI (Purn) Dr. H. Ahmad Yani Basuki, M.Si. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PP IPHI) menegaskan bahwa dinamika dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari perjalanan sebuah organisasi. Namun, penyelesaian melalui jalan islah dinilai penting agar perselisihan tidak mengganggu semangat pengabdian IPHI kepada umat, bangsa, dan negara, ucapnya.
“Semua dinamika, perbedaan pendapat, segala macam itu selalu ada jalan untuk menyelesaikan apa yang disebut dengan islah. Dan kami menggemakan itu selalu,” ujarnya.
Menurutnya, penyelesaian persoalan organisasi harus ditempuh dengan mengedepankan kebersamaan serta nilai-nilai keagamaan.
“Ketika kita mampu menyelesaikan masalah-masalah kita dengan tetap di jalan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.
23 Pengurus Wilayah Hadir
Muktamar VIII IPHI juga disebut mendapat partisipasi luas dari jajaran organisasi di berbagai daerah.
Sebanyak 23 dari 28 pengurus wilayah hadir secara langsung. Sementara pengurus wilayah yang tidak hadir secara fisik tetap mengikuti rangkaian Muktamar melalui platform daring.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih kuatnya semangat untuk menjaga keberlangsungan organisasi dan meneruskan pengabdian IPHI.
“Ini menandakan bahwa semangat untuk menjaga kelangsungan organisasi, kelangsungan pengabdian, kelangsungan untuk merawat kemabruran haji, untuk didedikasikan bagi kepentingan umat, bangsa dan negara ini akan selalu dapat kita pelihara dan kita tingkatkan,” ujarnya.
Upaya Mediasi Sudah Ditempuh
Dalam menghadapi dinamika internal tersebut, berbagai upaya penyelesaian disebut telah dilakukan. Di antaranya melalui komunikasi dan fasilitasi dengan pemerintah, Kementerian Agama, Kementerian Haji dan Umrah, hingga jalur pengadilan.
Namun, pihak IPHI menegaskan bahwa pendekatan yang terus dikedepankan adalah mencari jalan keluar melalui kebersamaan.
“Kita sudah melakukan berbagai macam upaya, juga melalui pemerintah. Kita sudah memohon fasilitasi dari Kementerian Agama, Kementerian Haji dan Umrah, juga pengadilan, semua sudah ditempuh,” tuturnya.
Meski proses penyelesaian belum sepenuhnya menghasilkan titik temu, harapan terhadap tercapainya islah tetap disuarakan. kita menilai perbedaan yang terjadi harus menjadi momentum untuk menemukan jalan terbaik bagi keberlangsungan organisasi, jelasnya. “Ini sebetulnya keadaan sedang menguji kita, mampu nggak memilih yang terbaik, jalan yang terbaik untuk berbuat yang terbaik,” katanya.
Semangat islah juga mendapat penekanan dari pihak lain dalam forum tersebut. Mediasi yang sebelumnya ditempuh melalui kementerian dan pengadilan disebut belum menghasilkan solusi yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Karena itu, Muktamar VIII diharapkan menjadi salah satu momentum untuk mencari jalan keluar bersama.
“Tidak ada di hadapan Allah kecuali perselisihan itu harus berakhir dengan kebersamaan kembali,” ujar Ahmad Yani.
Menurutnya, IPHI perlu kembali memperkuat semangat awal ketika organisasi tersebut didirikan, yakni menjadi wadah persaudaraan dan pengabdian para alumni haji untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Selain persoalan internal organisasi, Muktamar VIII IPHI juga diarahkan untuk membahas kontribusi organisasi dalam pembangunan nasional.
Dengan basis anggota yang merupakan alumni haji dan tersebar dari tingkat pusat hingga daerah, IPHI dinilai memiliki potensi untuk ikut berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
IPHI diharapkan dapat memperkuat pembinaan mental, ideologi, semangat, motivasi, serta mendorong partisipasi anggotanya dalam berbagai upaya pembangunan. Terlebih, Indonesia memiliki target pembangunan jangka panjang menuju satu abad kemerdekaan dengan cita-cita menjadi negara yang maju, adil, dan makmur.
“Dengan potensi kualitas dan kuantitasnya yang tersebar di seluruh tanah air, apalagi juga di pemerintahan, di swasta dengan aneka macam pekerjaannya, tentu dengan kesadaran memahami persoalan ini, harapan ini, tentu akan juga dengan meningkatkan semangat kebersamaan untuk memastikan kita juga bisa ikut berperan serta mewujudkan itu,” katanya.
Pembahasan mengenai kontribusi tersebut juga akan menjadi bagian dari agenda persidangan Muktamar VIII IPHI.
Berharap Pemerintah Turut Memfasilitasi
IPHI juga berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap keberlangsungan organisasi. Sejumlah komunikasi dengan Kementerian Agama serta Kementerian Haji dan Umrah telah dilakukan.
Langkah tersebut dinilai penting karena IPHI memiliki hubungan historis dengan pemerintah dalam perjalanan pembentukannya dan memiliki kaitan dengan pembinaan masyarakat, khususnya para alumni haji. “Kita sudah silaturahmi kepada Kementerian Agama yang memang punya hubungan historis dari pendirian IPHI ini. Dan juga kepada Kementerian Haji dan Umrah,” ujarnya.
Selain itu, IPHI juga menyampaikan bahwa keberadaan organisasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan internal, tetapi memiliki dimensi pengabdian yang lebih luas.
“Kita menyampaikan IPHI ini milik bersama. negara juga hadir pada waktu pembentukannya dan tentu apa yang kita lakukan di lapangan adalah juga bagian yang sama rangkaian pembinaan dari jemaah haji dan umrah,” katanya.
Ahmad Yani juga menyebutkan bahwa pemerintah telah menyambut baik niat untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Harapannya, seluruh proses tersebut dapat segera menemukan penyelesaian yang baik, harapnya.
Pada akhirnya, Muktamar VIII IPHI diharapkan mampu memperkuat konsolidasi, menjaga akuntabilitas organisasi, serta mengembalikan semangat kebersamaan agar IPHI tetap dapat menjalankan pengabdian bagi umat, bangsa, dan negara.
Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kemabruran haji, bukan hanya sebagai pengalaman spiritual pribadi, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata kepada masyarakat, bangsa dan negara khususnya dalam rangka menyambut Indonesia emas di masa yang akan datang, pungkasnya.
Editor: Dahlan









