BANDA ACEH – Limbah plastik dan ampas kopi disulap menjadi karya seni bernilai estetika dengan mengangkat ornamen tradisional Aceh. Inovasi tersebut dipamerkan dalam Pameran Penelitian Karya Seni bertajuk “Tranmedialisasi Ragam Hias Aceh Pada Material Limbah Plastik sebagai Model Local-Identity Sustainable Craft” di Galeri Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, pada 19–20 Oktober 2026.
“Pameran ini menjadi ajang pembuktian bahwa limbah tak sekadar diolah secara fungsional, melainkan diangkat nilainya menjadi high craft yang berakar pada tradisi sekaligus adaptif terhadap masa depan,” ungkap Niko Andeska selaku ketua tim peneliti.
Penelitian ini menawarkan pendekatan kreatif dalam menjawab persoalan penumpukan limbah plastik sekaligus menjaga keberlanjutan seni kriya tradisional. Melalui konsep Local-Identity Sustainable Craft, tim peneliti mentransformasikan ornamen khas Aceh, Pucok Reubong, ke dalam material baru melalui pendekatan creative upcycling atau pemanfaatan kembali limbah menjadi produk bernilai tambah.
Dalam proses penciptaannya, limbah plastik jenis HDPE dipadukan dengan ampas kopi untuk menghasilkan material dengan karakter visual dan tekstur yang khas. Penggabungan kedua bahan tersebut tidak hanya menghadirkan alternatif pemanfaatan limbah, tetapi juga membuka peluang pengembangan kriya yang menggabungkan inovasi material dengan identitas budaya lokal.
Proses pembuatan karya memadukan inovasi manufaktur thermo-forming dan teknik inlay yang presisi. Pendekatan tersebut menghasilkan tekstur organik yang dapat dirasakan melalui sentuhan serta tampilan visual berlapis, dengan motif tradisional yang menyatu dalam struktur material.
Sebanyak lima karya seni ditampilkan dalam pameran tersebut. Pengunjung juga dapat mempelajari proses perancangan melalui poster yang menyertai setiap karya serta menyaksikan video dokumentasi proses penciptaannya, mulai dari pengolahan material hingga menjadi karya seni.
Salah seorang pengunjung, Dr. Dedy Afriadi, M.Sn., menilai hasil penelitian tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi produk yang dapat dipasarkan.
“hasil penelitian ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk furnitur yang memiliki nilai jual tinggi,” ujar Dedy, Rabu (21/10/2026).
Selain menawarkan inovasi dalam pengolahan limbah, penelitian ini juga mengangkat pentingnya rekontekstualisasi budaya, yakni menghadirkan kembali ornamen tradisional Aceh dalam bentuk dan fungsi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Pameran ini melibatkan tim peneliti yang terdiri atas Niko Andeska sebagai ketua, bersama Rino Yuda dan Radiatul Adawiyah sebagai anggota. Kegiatan tersebut terbuka bagi sivitas akademika ISBI Aceh, alumni, seniman, siswa sekolah menengah, dan masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat inovasi seni kriya berbasis material daur ulang.
Melalui penelitian ini, pemanfaatan limbah plastik dan ampas kopi tidak berhenti pada upaya mengurangi sampah, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan produk kreatif yang berakar pada kekayaan budaya Aceh. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan kriya berkelanjutan yang memiliki nilai estetika, potensi ekonomi, dan identitas lokal yang kuat.
Penulis Hidayat. S
Editor: Dahlan









