Teheran – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi telah meluncurkan gelombang rudal hipersonik terbaru, Fattah-2, ke sasaran strategis di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, Rabu 03 Maret 2026.
Langkah ini merupakan balasan langsung atas serangan udara besar-besaran (Operation Epic Fury) yang dilancarkan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Iran mengklaim telah menargetkan setidaknya 27 pangkalan militer AS di kawasan Teluk (termasuk di Qatar, Kuwait, dan UEA) serta pusat-pusat pertahanan di Tel Aviv dan Haifa.
Ini merupakan penggunaan tempur pertama dari Fattah-2, sebuah Hypersonic Glide Vehicle (HGV) yang diklaim mampu mencapai kecepatan Mach 13 hingga Mach 15. Kemampuannya bermanuver di atmosfer menjadikannya sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional seperti Iron Dome atau Patriot.
Serangan ini menyusul laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara AS-Israel yang menghantam kompleks kepemimpinannya di Teheran awal pekan ini.
Dampak dan Kerusakan:
Sirene peringatan berbunyi di seluruh wilayah tengah hingga utara Israel. Laporan menyebutkan pecahan rudal menghantam gedung pencakar langit di kawasan Tel Aviv, sementara militer Israel (IDF) mengaku kewalahan menghadapi intensitas serangan.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi adanya korban jiwa di pihak personel AS (setidaknya 3 orang tewas) dan kerusakan pada infrastruktur militer di negara-negara sekutu Teluk.
Konflik ini juga berdampak pada fasilitas umum; dilaporkan adanya kerusakan pada Bandara Dubai dan Abu Dhabi, serta gangguan operasional di Selat Hormuz yang kini ditutup oleh Iran.
Reaksi Internasional:
- Israel: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan akan terus menyerang Iran dan sekutunya (Hizbullah) dengan “kekuatan besar” sebagai balasan atas hujan rudal ini.
- Amerika Serikat: Gedung Putih menyatakan sedang mengevaluasi tingkat kerusakan dan menyiapkan langkah “pembalasan yang menentukan” terhadap aset-aset militer Iran yang tersisa.
- Global: Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul penutupan jalur maritim strategis dan ancaman perang regional skala penuh
Saat Ini Kawasan Timur Tengah berada dalam status siaga tertinggi. Banyak negara mulai mengevakuasi warga negaranya dari Israel dan negara-negara Teluk seiring meluasnya zona konflik.
Editor: Redaksi













