ACEH BESAR — Kestabilan tekanan air bersih hingga ke titik paling ujung merupakan indikator utama keberhasilan pelayanan Perumda Tirta Mountala. Meski demikian, menjaga tekanan air tetap konstan di seluruh wilayah Kabupaten Aceh Besar menghadapi berbagai hambatan teknis yang kompleks.
Kasubag Sistem Jaringan Transmisi dan Distribusi (Trandis), Muhammad Ichsan Nizali, menjelaskan bahwa fluktuasi dan penurunan tekanan air di lapangan dipicu oleh beberapa faktor teknis. Faktor-faktor tersebut meliputi usia pipa Jaringan Distribusi Utama (JDU) yang semakin menua, pergeseran kontur tanah, serta keberadaan bangunan permanen di atas ruang bebas (right of way) yang menghambat jalur pipa.
Di samping masalah infrastruktur, Ichsan menyoroti praktik penyambungan air secara ilegal (illegal tapping) sebagai pemicu paling dominan yang merusak sistem hidrolis pipa utama. Penyadapan liar yang dilakukan tanpa perhitungan teknis menyedot debit air secara paksa di jalur tengah. Dampaknya langsung dirasakan oleh pelanggan resmi di kawasan ujung jaringan (dead end), di mana aliran air kerap mengecil drastis atau bahkan mati total akibat tekanan yang anjlok.
Guna mengatasi persoalan ini, keandalan personel teknis Tim Trandis di lapangan memerlukan dukungan kepedulian dari masyarakat sekitar. Peran aktif warga sebagai “mata dan telinga” di lingkungan masing-masing menjadi kunci penting dalam menjaga keutuhan jaringan.
Laporan cepat dari warga terkait indikasi pencurian air maupun kemunculan rembesan di permukaan tanah dinilai sangat membantu tim teknis untuk melakukan penanganan secara presisi sebelum krisis tekanan meluas.
Dengan sinergi yang lebih erat antara pelanggan dan Perumda Tirta Mountala, hambatan pada jalur distribusi utama diharapkan dapat diantisipasi sejak dini. Ichsan mengimbau seluruh warga Aceh Besar untuk mendukung penertiban jaringan serta menjaga integritas infrastruktur air bersih bersama demi menjamin aliran air yang lancar dan merata bagi seluruh masyarakat.
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan









