Sabang – Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, mengapresiasi kehadiran gerai Cokbang di Kota Wisata Sabang. Kehadiran gerai Cokbang yang menjual produk coklat lokal khas Sabang, menjadi bukti nyata bahwa Aceh mampu melakukan industri hulu hingga hilir, mulai dari menanam hingga menghasilkan produk turunan berkualitas tinggi.
Hal tersebut disampaikan oleh perempuan yang akrab disapa Kak Na itu, usai berkunjung dan berdialog dengan pengelola Cokbang, Senin (11/6/2026) sore.
“Cokbang Keren! Selain menjadi alternatif baru jajanan dan oleh-oleh khas Sabang, Cokbang yang merupakan unit usaha unggulan dari Koperasi Produsen Kakao Jaya Mandiri ini menjadi bukti nyata, bahwa Aceh mampu menjalankan sebuah siklus produksi mulai dari hulu hingga hilir,” kata Kak Na.
“Koperasi ini melakukan semuanya secara mandiri, mulai dari kebun kakao panen hingga memproduksi coklat. Tak hanya produksi coklat, produk turunan dari kakaonya juga beragam. Selain coklat batangan, minuman coklat dan coklat bubuk, kulitnya dimanfaatkan sebagai minuman herbal yang di seduh seperti teh. Minuman ini bahkan memiliki antioksidan yang tinggi serta menghambat penuaan dini atau anti aging,” ungkap Kak Na.
“Ingat, belum ke Sabang kalau belum ke Cokbang. Kami mengajak para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang dan berbelanja oleh-oleh coklat khas Sabang, di gerai Cokbang yang berada di Gampong Aneuk Laot. Murah, lezat dan bikin awet muda karena mengandung anti oksidan dan anti aging,” ucap Kak Na berpromosi.
Sementara itu, Melan Deta Diansyah selaku Kepala Produksi Cokbang menjelaskan, citarasa khas Cokbang terletak pada bahan bakunya, yaitu biji kakao Sabang yang ditanam oleh petani lokal binaan koperasi.
“Karakteristik biji kakao Sabang itu berkadar lemak rendah, hanya 1,6 persen. Hal ini membuat produksi coklat Cokbang lebih tahan lama dan memiliki citarasa khas dibanding produk sejenis di daerah lain,” ujar Melan.
Meski produksi Cokbang masih terbatas karena keterbatasan bahan baku, namun Melan mengaku senang karena Cokbang kini menjadi alternatif jajanan dan oleh-oleh khas Sabang.
“Wisatawan Malaysia juga sangat menggemari Cokbang. Ini terlihat dari beberapa kali wisatawan Malaysia memborong produk kami setiap berkunjung ke Sabang. Selain itu, masyarakat Sabang dan wisatawan lokal juga sangat menggemari Cokbang,” ungkap Melan.
Melan menambahkan, Cokbang kini telah memiliki 17 produk turunan aneka coklat hingga minuman herbal kulit coklat. Dirinya dan koperasi berkomitmen untuk terus membina para petani kakao Sabang agar mampu menghasilkan kakao yang berkualitas dan bermutu tinggi, untuk mendukung produksi Cokbang yang berkualitas tinggi pula.
*Salak Sabang*
Dari gerai Cokbang, Kak Na dan rombongan bertolak ke Gampong Balohan Kecamatan Sukajaya untuk berkunjung ke kebun salak milik Taha. Bersama Khanifah sang istri, Taha menanam Salak di lahan seluas 300 meter persegi. Kini, kebun salaknya telah berusia 20 tahun dan masih terus berproduksi.
Kepada Kak Na, Taha juga mendemonstrasikan teknik perkawinan bunga jantan ke bunga betina yang dilakukan dengan cara menyebarkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina secara manual.
“Petani salak dituntut selalu berkeliling untuk proses perkawinan dan penyerbukan. Berarti para petani salak ini orangnya rajin-rajin,” Canda Kak Na.
“Kepada para wisatawan, silahkan datang ke kebun salak bang Taha, salaknya manis harganya murah, hanya Rp25 ribu saja per kilogramnya,” ucap Kak Na berpromosi. []
Editor: Redaksi









