ACEH UTARA – Di tengah semakin langkanya pengrajin Rencong tradisional Aceh, Nahlil Mukta, pemuda asal Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, memilih untuk tidak tinggal diam. Melalui usaha Ploger Rencong Pasee, ia berupaya menjaga warisan budaya Aceh sekaligus mengembangkannya menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi yang mampu menembus pasar internasional.
Usaha tersebut berawal dari keprihatinan Nahlil melihat semakin sedikit masyarakat yang menekuni seni pembuatan Rencong secara tradisional. Berangkat dari kepedulian itu, ia mulai memproduksi sekaligus mempromosikan kerajinannya melalui media sosial.
Perjalanan awal tidak mudah. Konten promosi yang diunggahnya sempat kurang mendapat perhatian. Namun, Nahlil tetap konsisten hingga salah satu videonya masuk halaman rekomendasi atau For You Page (FYP) TikTok. Sejak saat itu, produk Rencong Pasee semakin dikenal, termasuk oleh masyarakat di luar Aceh.
“Awalnya memang tidak ada yang melirik. Namun, saya terus konsisten mempromosikannya melalui media sosial. Alhamdulillah, perlahan Rencong kita mulai dikenal banyak orang, termasuk masyarakat dari luar Aceh,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Selain mengandalkan promosi digital, Nahlil membangun kerja sama dengan sejumlah instansi pemerintah, di antaranya Dispora, bidang pariwisata, Disperindagkop, serta pelaku UMKM. Dukungan tersebut turut membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Kini, pesanan Rencong buatannya datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri, seperti Papua, Malaysia, dan Korea Selatan. Khusus Malaysia, pengiriman bahkan dilakukan secara rutin untuk memenuhi pesanan masyarakat setempat maupun warga Aceh yang menetap di negara tersebut.
Padukan Motif Tradisional dan Desain Modern
Dalam pengembangan produk, Nahlil tetap mempertahankan karakter Rencong tradisional Aceh, tetapi menghadirkan sentuhan inovasi melalui perpaduan ukiran lama dan desain baru. Menurutnya, pengembangan tampilan diperlukan agar produk lebih menarik tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat pada Rencong.
Inovasi tersebut juga menjadi upaya menjaga minat para pencinta benda pusaka. Meski demikian, proses produksi masih menghadapi kendala ketersediaan bahan baku, terutama tanduk kerbau yang semakin sulit diperoleh.
“Untuk bahan baku memang cukup sulit, terutama tanduk kerbau. Sekarang semakin susah mendapatkannya karena masyarakat lebih banyak memotong sapi,” jelasnya.
Regenerasi Pengrajin dan Peluang Ekonomi
Bagi Nahlil, Ploger Rencong Pasee bukan sekadar usaha untuk memperoleh keuntungan. Ia ingin kerajinan tersebut menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari keterampilan pembuatan Rencong.
Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai memberikan perhatian pada pengembangan sumber daya manusia dan regenerasi pengrajin. Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Jika sebelumnya hanya melibatkan satu pengrajin, kini usahanya telah berkembang dengan melibatkan sekitar lima orang.
Dari sisi ekonomi, Ploger Rencong Pasee mampu mencatat omzet sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan. Permintaan bahkan dapat meningkat tajam menjelang Ramadan dan Iduladha, hingga terkadang melampaui kapasitas produksi.
Nahlil berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni seni pembuatan Rencong agar keterampilan tradisional tersebut tidak terputus. Baginya, Rencong bukan sekadar benda pusaka atau produk kerajinan, melainkan bagian dari identitas, sejarah, dan kebudayaan masyarakat Aceh yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Muhammad Afdha
Editor: Dahlan









