BANDA ACEH – Ketua Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.A., resmi ditetapkan sebagai Ketua Forum Komunikasi Program Studi Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
Pembentukan forum tersebut merupakan salah satu hasil pertemuan para ketua program studi pascasarjana PTKI yang berlangsung dalam rangkaian Forum Direktur Pascasarjana (FORDIPAS) ke-13 dan International Conference on Islamic Studies (INCOILS) ke-6 di Hotel ZHM Premiere Padang, Sumatera Barat, pada 6–8 Agustus 2026.
Forum Komunikasi ini diarahkan sebagai wadah komunikasi, kolaborasi, dan berbagi pengalaman untuk pengembangan program studi pascasarjana. Dalam pertemuan tersebut, para ketua prodi membahas berbagai tantangan pendidikan pascasarjana, seperti persaingan antarperguruan tinggi, peningkatan mutu akademik, penelitian, publikasi, hingga penguatan kelembagaan.
Isu Masa Depan Studi Islam
Dalam perhelatan tersebut, Pascasarjana UIN Ar-Raniry turut mengangkat isu mengenai masa depan Studi Islam di Indonesia. Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani, M.A., hadir sebagai salah satu pemateri yang membawakan topik bertajuk “Knowledge Integration, Trend Dynamic, and Prospect: Overview on Islamic Studies’ Challenges and Future Prospects in Indonesian Higher Education.”
Prof. Eka menyampaikan bahwa Studi Islam di Indonesia saat ini dihadapkan pada perubahan paradigma keilmuan, transformasi kelembagaan, pesatnya perkembangan teknologi digital, serta tuntutan globalisasi pendidikan tinggi.
“Studi Islam tidak cukup berhenti pada pendekatan interdisipliner, tetapi perlu bergerak menuju transdisipliner,” ujar Eka dalam paparannya.
Menurutnya, pendekatan transdisipliner memungkinkan Studi Islam untuk berinteraksi lintas bidang, mulai dari ilmu pengetahuan dan teknologi, kedokteran, hingga ilmu sosial. Hal ini dinilai krusial agar hasil kajian mampu berkontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Tantangan dan Peluang Teknologi Digital
Lebih lanjut, Eka membeberkan tiga tantangan utama pendidikan tinggi Islam saat ini, yakni rigiditas kelembagaan, kesiapan mahasiswa (khususnya pada jenjang doktoral), serta adanya kesenjangan sumber daya akademik.
“Adopsi metodologi dari tradisi orientalis juga perlu dikritisi secara akademik agar tidak meminggirkan epistemologi lokal serta otoritas intelektual ulama dan tradisi keilmuan Muslim Indonesia,” tegasnya.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai peluang strategis bagi perguruan tinggi Islam. Kehadiran teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk digitalisasi manuskrip, akselerasi penelitian, perluasan akses sumber akademik internasional, hingga pengembangan digital humanities.
“Perguruan tinggi Islam di Indonesia memiliki peluang strategis untuk memperkuat posisinya dalam percaturan Studi Islam global dengan mengembangkan riset yang memadukan kekayaan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkas Eka.
Editor: Redaksi









