Home / Ekbis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:06 WIB

Tantangan dan Strategi Baru Ekonomi Aceh: PT PEMA Dorong Hilirisasi dan Industrialisasi Menuju Era Baru

REDAKSI

Dirut PEMA Faisal Ilyas di AEDF 2026 Banda Aceh 6/10/2026: Aceh harus cipta nilai tambah kopi, ikan, migas jadi industri, dividen PEMA Rp128,11 miliar, butuh kolaborasi.

Dirut PEMA Faisal Ilyas di AEDF 2026 Banda Aceh 6/10/2026: Aceh harus cipta nilai tambah kopi, ikan, migas jadi industri, dividen PEMA Rp128,11 miliar, butuh kolaborasi.

BANDA ACEH — Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA), Faisal Ilyas, menyatakan bahwa Aceh memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, tantangan utama daerah saat ini adalah bagaimana mengubah kekayaan dan komoditas menjadi produktivitas serta nilai tambah yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kata sambutan dalam Seminar Aceh Economic Development Forum (AEDF) 2026 yang mengusung tema “Accelerating Investment and New Industrial Era in Aceh” di Banda Aceh, Selasa, 6 Oktober 2026.

Fokus Transformasi Ekonomi Daerah

Menurut Faisal, terdapat beberapa langkah krusial yang harus dilakukan oleh Aceh dalam memajukan perekonomian daerah:

  • Transformasi Produktivitas: Mengubah kekayaan menjadi produktivitas, komoditas menjadi industri, serta investasi menjadi kesempatan kerja nyata bagi masyarakat Aceh.
  • Optimalisasi Sektor Unggulan: Memaksimalkan modal ekonomi besar yang dimiliki Aceh, meliputi sektor migas dan energi, agroindustri, perdagangan, pariwisata, kelautan dan perikanan, serta berbagai sektor jasa dan ekonomi pendukung.
  • Penyelesaian Tantangan Utama: Mengatasi berbagai hambatan seperti hilirisasi, konektivitas, efisiensi logistik, realisasi investasi, serta penguatan ekosistem usaha yang terintegrasi.
Baca Juga :  BPMA Fasilitasi Kerja Sama Produksi Sumur Minyak Masyarakat di Aceh

“Karena itu, kita membutuhkan paradigma baru: Aceh tidak boleh hanya menjadi tempat mengambil bahan baku. Aceh harus menjadi tempat di mana nilai tambah itu diciptakan,” ujar Faisal.

Sebagai contoh konkret, ia menyebutkan bahwa Aceh tidak cukup hanya menjual kopi mentah, melainkan harus membangun industri kopi. Pendekatan serupa juga harus diterapkan pada sektor perikanan melalui pengembangan rantai nilai (value chain), serta sektor energi yang perlu diikuti dengan pembangunan kawasan industri di sekitarnya.

Peran Strategis PT PEMA sebagai Instrumen Ekonomi

Dalam konteks pembangunan ini, PT PEMA memegang tanggung jawab besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Faisal menegaskan bahwa PT PEMA bukan sekadar perusahaan milik Pemerintah Aceh, melainkan instrumen ekonomi daerah yang ukuran keberhasilannya dinilai dari seberapa besar perusahaan mampu membuka ruang pertumbuhan bagi Aceh.

Baca Juga :  Bupati Aceh Besar Kunjungi Peternakan Ayam Petelur di Cot Suruy

Selama lebih dari tujuh tahun perjalanannya, PT PEMA telah menunjukkan kontribusi nyata kepada Pemerintah Aceh, salah satunya melalui setoran dividen yang hingga periode terakhir telah mencapai kurang lebih Rp 128,11 miliar. Kendati demikian, pencapaian tersebut bukanlah tujuan akhir. PEMA masih memiliki tugas besar dalam membangun bisnis yang sehat, menarik investasi, memperkuat industri, mengembangkan aset daerah, dan menciptakan multiplier effect bagi masyarakat.

Kolaborasi sebagai Kunci Masa Depan Aceh

Faisal berharap rangkaian kegiatan Seminar Executive dan Focus Group Discussion (FGD) AEDF 2026 tidak hanya berhenti pada sebatas rekomendasi, melainkan mampu melahirkan langkah konkret dalam:

  • Menentukan sektor prioritas pembangunan.
  • Mengidentifikasi investasi yang perlu dikejar.
  • Memperbaiki kebijakan dan memperkuat infrastruktur.
  • Membangun kemitraan dengan pihak-pihak strategis.
Baca Juga :  HUT ke-53 Bank Aceh: Momentum Memperkuat Amanah, Menumbuhkan Keberkahan Bagi Aceh

Ia juga menekankan bahwa era industri baru bukanlah sebuah ancaman, melainkan peluang emas untuk membuka babak baru pembangunan ekonomi daerah yang membutuhkan keberanian serta kolaborasi lintas sektor.

“Kolaborasi bukan lagi pilihan. Kolaborasi adalah kebutuhan. Tidak mungkin Pemerintah Aceh bekerja sendiri… Dan tidak mungkin masyarakat hanya menjadi penonton,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Faisal menegaskan komitmen PT PEMA untuk terus siap menjadi mitra strategis Pemerintah Aceh, membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi para investor, dunia usaha, akademisi, serta seluruh elemen masyarakat guna mendorong agenda pembangunan ekonomi Aceh di masa depan. ***

Penulis: Nazarullah

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Ekbis

Pj Bupati Aceh Besar Kembali Fungsikan Rumah Potong Hewan Lambaro

Ekbis

Rekor Tertinggi, BI Ungkap Ekonomi Aceh Tumbuh Signifikan pada 2024, 5 Faktor Ini Penyumbangnya

Ekbis

Aceh Besar Tertarik Kembangkan Kacang Koro Pedang

Ekbis

Koperasi Tambang Rakyat dan Polemik Kewenangan Aceh

Ekbis

Pertamina Patra Niaga Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi Per 1 September 2026 di Wilayah Sumbagut

Ekbis

Produksi Minyak Sumur Masyarakat di Aceh Utara Resmi Diserap PT PGE Lewat Kerja Sama Baru

Ekbis

Menkeu Purbaya: Kondisi Keuangan Pemda Terjaga dengan Kas Rp 195,2 Triliun

Ekbis

DPD REI Aceh Tetapkan Jadwal Musda 21 September 2026, Siap Gelar Agenda Transisi Organisasi