JAKARTA — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, meminta pemerintah segera mengambil langkah luar biasa (extraordinary) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di sejumlah wilayah Kalimantan.
Alex mengingatkan agar bencana lingkungan besar akibat fenomena El Nino pada periode 1997–1998, yang membakar lebih dari 9 juta hektare lahan di Kalimantan, tidak kembali terulang. Menurutnya, karhutla saat ini telah memengaruhi berbagai sektor mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat, yang diperparah oleh cuaca kering akibat El Nino.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (19/8/2026), tercatat sebanyak 1.487 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan konsentrasi tertinggi. Rincian sebaran titik panas tersebut meliputi:
- Kalimantan Tengah: 767 titik (sumber data menyebutkan 767 titik dan 315 titik)
- Kalimantan Barat: 441 titik
- Kalimantan Selatan: 34 titik
- Kalimantan Utara: 17 titik
Akibat kondisi ini, sejumlah pemerintah daerah telah memperpanjang status tanggap darurat. Salah satunya adalah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, yang memperpanjang status tanggap darurat hingga 4 September 2026. Di wilayah Kobar, karhutla telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dari 189 kejadian dan 461 titik panas, dengan Kecamatan Arut Selatan dan Kumai sebagai daerah terdampak terparah.
Detail dampak di dua kecamatan tersebut mencakup:
Kecamatan Arut Selatan: 98 kejadian, 180,475 hektare lahan terbakar, dan 226 titik panas.
Kecamatan Kumai: 63 kejadian dan 584,41 hektare lahan terbakar.
Politikus PDIP tersebut menyoroti data MapBiomas Fire yang menunjukkan puncak kebakaran pada periode 2014, 2015, dan 2019 terjadi antara September hingga November (puncak di bulan Oktober) dengan porsi sekitar 61 persen. Alex menilai catatan sejarah ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara total metode penanganan yang selama ini digunakan.
Beberapa poin evaluasi dan rekomendasi yang disampaikan Alex meliputi:
- Penguatan deteksi dini dan peningkatan patroli di wilayah rawan.
- Peningkatan akurasi sistem peringatan dini berbasis satelit.
- Perluasan Program Desa Peduli Api serta pelatihan pembukaan lahan tanpa bakar bagi masyarakat.
- Penanganan jangka panjang berbasis pencegahan, peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, dan tata kelola lahan yang berkelanjutan.
Dampak Asap pada Udara dan Aktivitas Masyarakat
Kondisi kabut asap saat ini telah memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga di beberapa wilayah:
Palangka Raya: Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 487 pada 19 Agustus 2026, yang masuk dalam kategori berbahaya. Pekatnya asap juga menekan jarak pandang (visibilitas) hingga hanya sekitar 1,4 kilometer.
Banjarbaru: Dinas Pendidikan menyesuaikan jadwal kegiatan belajar mengajar dengan menunda jam masuk sekolah tingkat TK, SD, dan SMP hingga pukul 09.00 WITA.
Editor: Dahlan











