Home / Ekbis

Rabu, 5 November 2025 - 13:26 WIB

Rasa Manis dari Ujung Barat Nusantara: Kisah Cokbang Mengangkat Harkat Kakao Sabang Menjadi Kekuatan Ekonomi Baru

REDAKSI

Cokelat sabang sebagai oleh - oleh khas sabang Rabu, ( 05 - 11 - 2025). Foto : Ist

Cokelat sabang sebagai oleh - oleh khas sabang Rabu, ( 05 - 11 - 2025). Foto : Ist

SABANG — Di pulau yang selama ini tersohor sebagai surga bahari di ujung barat Indonesia, tersimpan sebuah kisah manis yang tumbuh dari kebun-kebun kakao nan subur.

Pulau Sabang kini tidak hanya memikat wisatawan lewat pesona pesisir dan pesona bawah lautnya, tetapi juga mulai mengukuhkan diri melalui cita rasa khas produk olahan cokelat lokal berlabel Cokbang (Cokelat Sabang), Rabu 05 November 2025

Di balik geliat dan kesuksesan brand Cokbang, berdiri sosok pemuda bersemangat tinggi bernama Melan. Selaku pemilik usaha sekaligus Manager Produksi, Melan tak sekadar menjalankan roda bisnis pengolahan cokelat. Lebih dari itu, ia mengusung misi besar untuk mendongkrak nilai tambah dan mengangkat derajat hasil pertanian kakao lokal agar mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi.

Dari Biji Kakao Lokal Menjadi Kekuatan Ekonomi

Melan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan keaslian serta kualitas produk olahan yang ia ciptakan. “Kami 100 persen menggunakan bahan baku dari Sabang,” ungkap Melan dengan nada bangga saat ditemui di rumah produksinya yang berlokasi di kawasan Aneuk Laot.

Matanya berbinar ketika mengurai faktor alami yang menjadikan kakao Sabang memiliki keunggulan kompetitif. “Kita ini dikelilingi laut, jadi unsur garamnya alami. Tanahnya juga dari letusan gunung berapi, mineralnya tinggi. Itu yang bikin rasa kakao Sabang lebih nikmat,” lanjutnya.

Baca Juga :  Bupati Aceh Besar Kunjungi Peternakan Ayam Petelur di Cot Suruy

Secara teknis, biji kakao Sabang terbukti memiliki kualitas fisik yang sangat unggul. Melan menjelaskan bahwa kadar lemak biji kakao lokal di daerah tersebut tergolong tinggi, yakni mencapai 52,15 persen. Tingginya kadar lemak alami ini menjadi kunci utama yang melahirkan olahan cokelat beraroma tajam serta memiliki karakteristik rasa yang kuat, khas, dan kompleks.

Kendati demikian, perjalanan membangun brand Cokbang tidaklah semulus yang dibayangkan. Sebelum industri olahan ini lahir, para petani kakao di Sabang kerap menelan kepahitan lantaran biji kakao mentah mereka hanya dihargai sangat murah di pasaran.

“Dulu, petani kesulitan. Kakao dihargai rendah. Kami hadir untuk memutus mata rantai itu. Memberi nilai tambah agar petani bisa sejahtera,” tegas Melan.

Sinergi Kuat Bersama Petani Lokal

Keberadaan Cokbang saat ini telah berkembang menjadi salah satu unit usaha unggulan di bawah naungan Koperasi Produsen Kakao Jaya Mandiri. Sejak mulai digarap secara serius dalam beberapa tahun terakhir, Cokbang konsisten merangkul dan mendampingi para petani lokal secara langsung.

Baca Juga :  Raih Empat Penghargaan Top CSR Awards 2025, SBI Tegaskan Komitmen pada Bisnis Berkelanjutan

Hingga saat ini, tercatat ada sekitar 30 petani kakao yang menjadi binaan di wilayah Sabang, dengan lima di antaranya telah secara rutin memasok pasokan biji kakao berkualitas setiap bulannya.

“Kami fokus pada kualitas. Kami dampingi petani agar menghasilkan biji fermentasi terbaik. Ini adalah kunci agar cokelat kami bisa bersaing,” terang Melan, sembari menegaskan pentingnya kolaborasi yang erat antara produsen dan petani demi menjaga mutu rantai pasok.

Membidik Pasar Global dan Menyiapkan Konsep Wisata Edukasi

Inovasi Cokbang terus mengalir melalui sajian 14 jenis varian produk olahan cokelat yang beragam, mulai dari Coklat Milk, Coklat Kacang, hingga varian Choco Nibs yang menjadi ciri khas tersendiri. Ditawarkan dengan kisaran harga yang ramah di kantong mulai dari Rp20.000 hingga Rp150.000 per kemasan Cokbang kini sukses memposisikan diri sebagai buah tangan atau oleh-oleh wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke Sabang.

Langkah Cokbang untuk terbang lebih tinggi juga diperkuat oleh dukungan penuh berbagai pemangku kepentingan, termasuk PKK Kota Sabang dan Rumah BUMN. Peran pendampingan pada aspek manajemen operasional, inovasi produk, hingga pembukaan akses promosi pada ajang bergengsi level nasional maupun internasional seperti Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) diakui Melan sangat membantu percepatan usaha.

Baca Juga :  DPD REI Aceh Tetapkan Jadwal Musda 21 September 2026, Siap Gelar Agenda Transisi Organisasi

“Harapan kami, Cokbang menjadi inspirasi bagi UMKM lainnya. Kami ingin membawa nama Sabang ke tingkat nasional bahkan internasional,” harap Melan.

Tidak berhenti pada penjualan produk fisik semata, Cokbang kini tengah merancang penguatan sektor turisme melalui konsep wisata edukasi. Lewat konsep baru ini, wisatawan kelak tidak hanya datang untuk membeli produk, melainkan juga berkesempatan melihat dan mempelajari secara langsung seluruh tahapan pengolahan cokelat—mulai dari proses pemetikan biji di kebun kakao hingga diolah menjadi batang cokelat lezat yang siap disantap.

Di bawah nahkoda Melan, Cokbang memberikan bukti nyata bahwa potensi kekayaan alam lokal yang dikelola secara fokus, profesional, dan inovatif sanggup menjelma menjadi ikon daerah yang membanggakan sekaligus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru di ujung barat Indonesia.

Penulis: Irham

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Ekbis

BSI Klaim Aset di Aceh Tembus Rp 24 Triliun,Ini Target Selanjutnya

Bsi

Pulihkan Pesisir Aceh Tamiang, BSI Dan Relawan Bakti BUMN Tanam 15.000 Mangrove

Ekbis

Heboh Kasus Minyakita, Anggota DPRA Minta Pemerintah Aceh Sidak Pasar

Ekbis

Indonesia Bakal Impor Minyak Mentah dan LPG dari AS, Bukan BBM

Ekbis

Aceh Terpilih Sebagai Lokasi Penerapan Teknologi CCS Berskala Industri

Ekbis

Saham PT Adhi Karya Melonjak Naik

Daerah

Tingkatkan Perlindungan Nasabah, Bank Aceh Syariah Teken MoU dengan Kejati Aceh

Ekbis

Peluang Karier Perbankan: Bank Mandiri Taspen Buka Lowongan Officer Development Program (ODP)