Home / Parlementarial / Pemerintah

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:43 WIB

Stop Ekspor Bahan Mentah: DPRA Desak Hilirisasi Sawit di Barsela

REDAKSI

Anggota Komisi III DPRA Hasballah desak Pemprov Aceh bangun refinery & pelabuhan khusus sawit di Barsela. 5.000 KL CPO/hari ke Medan bukti potensi hilirisasi Aceh belum dinikmati, Jum'at 19/06/2026.

Anggota Komisi III DPRA Hasballah desak Pemprov Aceh bangun refinery & pelabuhan khusus sawit di Barsela. 5.000 KL CPO/hari ke Medan bukti potensi hilirisasi Aceh belum dinikmati, Jum'at 19/06/2026.

Banda Aceh Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Hasballah, secara tegas mendorong Pemerintah Aceh untuk segera mengambil langkah strategis dalam membangun pabrik refinery (pengolahan) kelapa sawit serta pelabuhan khusus di wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela).

Langkah ini dinilai sangat mendesak demi mengoptimalkan potensi daerah. Menurut Hasballah, pembangunan fasilitas pengolahan hilir tersebut bakal sangat berguna untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit. Selama ini, sektor perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu penopang utama roda perekonomian masyarakat di wilayah Barsela.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Hasballah di sela-sela agenda kunjungan kerja Komisi III DPRA saat menyambangi sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi di wilayah Barsela pada Jumat (19/6/2026).

Dalam pemaparannya, Hasballah menyoroti bagaimana Aceh selama ini belum mampu mandiri dalam mengelola hasil bumi besarnya sendiri, sehingga keuntungan ekonomi yang didapat belum maksimal.

Baca Juga :  Syech Muharram Apresiasi Peran MAA dalam Pelestarian Adat Aceh

“Sudah saatnya Aceh memiliki pelabuhan khusus dan pabrik refinery sawit sendiri di wilayah Barsela. Luas perkebunan sawit kita sangat besar, tetapi sebagian besar hasilnya masih dikirim ke luar Aceh untuk diolah,” ujar Hasballah.

Politikus dari Partai Aceh ini kemudian mengungkapkan data yang cukup mencengangkan terkait mobilitas bahan baku keluar daerah. Berdasarkan pantauannya, setiap hari ada sekitar 5.000 kiloliter (KL) Crude Palm Oil (CPO) atau minyak mentah kelapa sawit dari wilayah Barsela Aceh yang diangkut menuju ke Medan, Sumatera Utara.

Bagi Hasballah, kondisi nyata tersebut menjadi bukti sahih betapa besarnya potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Aceh sendiri. Hal ini terjadi lantaran proses pengolahan lanjutan alias hilirisasi justru masih terus dilakukan di luar daerah.

Baca Juga :  Laskar Panglima Nanggroe Harap Presiden Prabowo Hadiri Pelantikan Mualem Gubernur Aceh: Bukti Komitmen pada MoU Helsinki

“Setiap hari ada sekitar 5.000 KL yang diangkut ke Medan. Jika fasilitas pengolahan dan pelabuhan tersedia di Aceh, maka nilai tambah, lapangan kerja, dan pendapatan daerah bisa dinikmati langsung oleh masyarakat Aceh,” tuturnya lagi.

Lebih lanjut, Hasballah menilai bahwa kehadiran pabrik refinery di dalam daerah akan secara otomatis memperkuat seluruh rantai industri sawit di tanah Rencong. Di saat yang sama, kehadiran industri hilir ini dipastikan bakal mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Barsela yang selama ini memang dikenal luas sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa sawit terbesar.

Oleh karena itu, ia meminta dengan komitmen kuat agar Pemerintah Aceh mau menjadikan pembangunan industri hilir sawit ini sebagai salah satu prioritas strategis pembangunan. Pemerintah daerah juga dituntut untuk mulai menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk pelabuhan khusus yang memadai untuk memperlancar jalur distribusi serta ekspor produk-produk sawit langsung dari Aceh.

Baca Juga :  Ketua DPRA dan Plt Sekda Bahas Sumbatan Realisasi APBA 2025

“Dengan potensi yang dimiliki, Aceh tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Kita harus mampu mengolah sendiri sehingga manfaat ekonominya lebih besar bagi daerah dan masyarakat,” jelas Hasballah secara rinci.

Selain dari aspek ekonomi langsung seperti pendapatan daerah dan lapangan kerja, Hasballah juga memaparkan keuntungan lain dari sisi infrastruktur transportasi darat yang tidak kalah penting.

Menurutnya, keberadaan pabrik pengolahan di dalam wilayah Aceh akan membawa dampak positif bagi ketahanan fasilitas publik.

“Lebih dari itu, jalan-jalan yang ada di Aceh juga akan lebih awet jika dibangun refinery. Sebab, mobilitas truk pengangkut CPO akan berkurang di jalan Aceh,” pungkasnya menutup pernyataan. [Adv]

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Aceh Besar

Kepala Bappeda Aceh Besar Tutup Training Raya HMI di Bapelkes Jantho

Pemerintah

Pemerintah Aceh Dorong Penggunaan Bahasa dan Aksara Daerah dalam Kehidupan Sehari-hari

Pemerintah

Jalan Berlubang di Air Dingin Samadua Diperbaiki, Pemkab Aceh Selatan dan BPJN Aceh Sinergi Respons Keluhan Warga

Parlementarial

Komisi III DPRA Dukung Pembangunan PLTSa, Dorong Aceh Masuk dalam Lokasi Prioritas

Berita

Ada Dukungan Pemodal di Balik Masih Adanya Petani Ganja di Aceh

Parlementarial

Hardiknas 2026, Ketua DPRA: Perkuat SDM Aceh Lewat Sinergi Pendidikan Umum-Dayah

Parlementarial

Ngohwan Dorong Puskesmas Aceh Besar Jadi BLUD, Solusi Selamatkan 400 Nakes

Aceh Besar

Plt Sekda Aceh Besar Lantik 3 Pejabat Fungsional