BANDA ACEH — Tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil mengembangkan inovasi membran penjernih air antibakteri yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan ekstrak rumput bambu (Pogonatherum crinitum).
“Kita sedang mengembangkan inovasi rekayasa membran penyaring air ramah lingkungan yang memiliki sifat antibakteri sangat kuat,” ujar Ketua Tim PKM-RE Teknik Kimia USK, Said Habiburrahman, di Banda Aceh, Selasa.
Penelitian berfokus pada “Rekayasa Struktur dan Sifat Antibiofouling Membran Polietersulfon dengan Nanopartikel Perak (Ag) dan Seng Oksida (ZnO) dari Ekstrak Pogonatherum Crinitum”. Inovasi ini digagas oleh Said Habiburrahman bersama dua anggotanya, Zidan Farel Al-Rasyid dan Muhammad Zaid, di bawah bimbingan Prof. Nasrul.
Said menjelaskan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap tingginya tingkat pencemaran air serta keterbatasan teknologi membran polyethersulfone (PES) konvensional. Membran konvensional yang kerap digunakan dalam pengolahan air tersebut dinilai memiliki kelemahan utama, yakni sangat rentan terhadap biofouling—fenomena penumpukan polutan organik dan mikroorganisme yang menyumbat pori-pori membran hingga menurunkan efisiensi filtrasi secara drastis.
Guna mengatasi persoalan tersebut, tim merekayasa membran PES melalui injeksi nanopartikel perak (Ag) dan seng oksida (ZnO). Injeksi ini menerapkan pendekatan green synthesis yang memelopori penggunaan ekstrak rumput bambu.
Menurut Said, rumput bambu selama ini kerap dipandang sebatas tanaman liar yang tumbuh subur di kawasan tropis, sehingga pemanfaatannya masih sangat minim.
“Padahal, tanaman liar ini telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dalam bidang farmasi, biomedis, dan material,” ungkapnya.
Editor: Redaksi











