Home / Ekonomi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Lonjakan Harga Minyak Dunia Dipicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah dan Penurunan Pasokan AS

REDAKSI

Kenaikan harga minyak dunia (Brent naik 1,1% ke USD110,02/barel dan WTI naik 0,9% ke USD98,05/barel) dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat rencana eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran, serta penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 3,1 juta barel, Kamis 22/10/2026. (Foto: Ilustrasi)

Kenaikan harga minyak dunia (Brent naik 1,1% ke USD110,02/barel dan WTI naik 0,9% ke USD98,05/barel) dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat rencana eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran, serta penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 3,1 juta barel, Kamis 22/10/2026. (Foto: Ilustrasi)

HOUSTON — Harga minyak dunia kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis pagi, 22 Oktober 2026. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar yang terus berlanjut terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, serta data penurunan tajam persediaan komoditas energi di Amerika Serikat.

Hingga saat ini, harga minyak mentah terpialang berada di dekat level tertinggi dalam lima bulan terakhir yang tercapai pada awal pekan ini, seiring minimnya indikasi menuju deeskalasi konflik regional.

Berdasarkan data dari Investing, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Desember mengalami kenaikan sebesar 1,1% dan parkir di level USD110,02 per barel. Senada dengan Brent, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut terkerek 0,9% menjadi USD98,05 per barel.

Ketegangan di Timur Tengah Membayangi Pasar Global

Lonjakan harga minyak pada hari Kamis ini menyusul laporan investigasi dari The New York Times (NYT) yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah merencanakan peningkatan operasi militer terhadap Iran, yang dijadwalkan berlangsung pasca-pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.

Baca Juga :  AMANAH dan BI Aceh Perkuat Kolaborasi Dorong Ekonomi Kreatif Anak Muda

Berdasarkan laporan tersebut, kedua negara berencana menyasar infrastruktur energi strategis, fasilitas nuklir, serta aset persenjataan strategis Iran. Persiapan militer di kedua negara dikabarkan telah diintensifkan.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan telah melakukan pertemuan khusus dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan ini guna membahas berbagai opsi taktis dan strategis yang mungkin diambil.

Di sisi lain, Teheran telah melayangkan peringatan keras akan memberikan pembalasan telak terhadap segala bentuk tindakan permusuhan baru dari pihak AS. Ancaman tersebut meliputi potensi serangan balasan terhadap kilang minyak Arab Saudi, pusat data strategis, hingga infrastruktur kabel internet bawah laut.

Ketegangan di kawasan vital perairan internasional juga kian memanas setelah Iran meningkatkan frekuensi serangan terhadap kapal-kapal kargo yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga :  Pertamina EP Rantau Sosialisasi Keselamatan Jalur Pipa Migas di Aceh Tamiang dan Langkat

Tekanan Politik Domestik di Amerika Serikat

Presiden AS Donald Trump tercatat telah berulang kali menunda potensi aksi militer terhadap Iran, serta menegaskan bahwa tidak akan ada tindakan permusuhan baru yang dilancarkan sebelum pesta demokrasi paruh waktu selesai.

Pemerintahan Trump dan Partai Republik saat ini tengah menghadapi ujian berat dalam konstelasi politik domestik. Meningkatnya kemarahan publik akibat inflasi dan tingginya biaya hidup menjadi sorotan utama, di mana banyak pihak menuding kebijakan luar negeri konfrontatif Trump terhadap Iran sebagai salah satu pemicu lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri.

Sebagai langkah antisipasi untuk meredam krisis energi domestik, Presiden AS baru-baru ini mengumumkan tercapainya kesepakatan pasokan diesel berskala besar dengan Rusia guna menutupi defisit pasokan lokal. Selain itu, pada pekan ini Trump juga menyatakan keterbukaannya untuk menggelar pertemuan trinasional bersama Tiongkok dan Rusia guna merumuskan solusi damai terkait konflik yang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Sumbagut Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi per 1 September 2026, Pertamax Turbo Hingga Dex Series Naik

Di sisi lain, serangkaian serangan Ukraina yang menyasar infrastruktur energi Rusia—dengan tujuan memangkas sumber pendapatan ekspor Moskow—turut dinilai memperketat rantai pasokan global dan memberikan dorongan lanjutan bagi kenaikan harga minyak mentah internasional.

Penurunan Persediaan Minyak Mentah AS

Sentimen penguatan harga minyak ini semakin diperkuat oleh rilis data resmi dari pemerintah AS pada hari Rabu. Laporan tersebut menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah nasional mengalami penurunan signifikan sebanyak 3,1 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober, melampauiestimasi dan ekspektasi awal para analis pasar.

Kombinasi antara ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah dan data fundamental pasokan domestik AS yang ketat diprediksi akan terus menjadi katalis utama penggerak pasar energi global dalam waktu dekat.

Penulis: Nazarullah

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Kinerja Pembiayaan BSI Solid, Ditopang 23% Sektor Usaha Berkelanjutan

Ekonomi

Pemeliharaan Gardu Induk Alur Dua Picu Pemadaman Listrik Sehari Penuh di Langsa dan Sekitarnya

Ekonomi

Bank Aceh Syariah Serahkan Dividen Rp4 Miliar, Zakat, dan Bantuan CSR ke Pemkab Simeulue

Ekonomi

Gubernur Aceh Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Transformasi Digital dalam RUPS Bank Aceh Syariah

Daerah

Pedagang Curhat ke Wagub Fadhlullah: Harga Bergerak Naik, Daya Beli Berkurang

Ekonomi

Dorong Ekonomi dan Kelestarian Hutan, 19 KUPS di Aceh Dapat Pendampingan Program Blended Finance Model

Ekonomi

Perluas Sasaran, Pemprov Aceh Gelar Gerakan Pangan Murah di 7 Titik Selama Oktober 2026

Ekonomi

Nyak Ubit Terharu: Terima Kasih Bapak TNI, Bantuan Ini Sangat Berarti bagi Keluarga Kami