Banda Aceh – Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar, secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd sebagai Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) untuk masa bakti 2026–2031. Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini digelar di Pendopo Wali Nanggroe, Sabtu (9/5/2026) pagi.
Selain Prof. Yusri Yusuf, Wali Nanggroe juga mengukuhkan 22 pengurus MAA dan 15 pemangku adat. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran alim ulama, tokoh adat, unsur pemerintah, akademisi, serta tokoh masyarakat Aceh lainnya.
Pesan Wali Nanggroe: Menjaga Marwah Indatu
Dalam amanatnya, Wali Nanggroe menekankan bahwa jabatan di kepengurusan MAA merupakan tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga warisan luhur nenek moyang (indatu).
”Amanah ini bukan sekadar jabatan organisasi, tetapi tanggung jawab besar untuk menjaga marwah adat Aceh sebagai warisan luhur indatu kita,” tegas Malik Mahmud.
Beliau mengingatkan kembali falsafah “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala,” yang menjadi simbol harmonisasi antara hukum agama dan adat dalam tatanan sosial masyarakat Aceh. Di tengah gempuran globalisasi, MAA diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga jati diri bangsa Aceh agar adat tetap hidup sebagai pedoman etika harian, bukan sekadar simbol seremonial.
Wali Nanggroe juga menitipkan harapan agar kepengurusan baru ini mampu:
Memperkuat kelembagaan adat hingga ke tingkat gampong.
Membangun sinergi dengan pemerintah, ulama, dan generasi muda.
Menjadikan adat Aceh adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai luhur.
Strategi Majelis Adat Aceh ke Depan
Menanggapi amanah tersebut, Ketua MAA terpilih, Prof. Yusri Yusuf, menyatakan komitmennya untuk segera melakukan revitalisasi lembaga-lembaga adat di seluruh Aceh. Ia menekankan pentingnya sosialisasi masif agar masyarakat kembali memahami peran penting adat dalam membentengi agama.
“Fungsi adat adalah untuk menguatkan agama. Orang tua dulu berkata, ‘Kong rumoh karena bajo lingka puteng, kong agama karena adat di geunireung,’ yang berarti adat berfungsi menjaga agama,” jelas Prof. Yusri.
Sebagai langkah inovasi, MAA berencana merambah dunia digital. Pemanfaatan teknologi informasi akan menjadi sarana utama untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan adat istiadat Aceh kepada generasi milenial dan Gen Z, guna memastikan nilai-nilai budaya tetap lestari meski di tengah perkembangan zaman yang pesat.
Editor: Redaksi









