BANDA ACEH — Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Abd Jamal, menilai investasi di sektor pertambangan memiliki potensi besar menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Aceh. Menurutnya, investasi tersebut memiliki daya dorong ekonomi yang kuat, khususnya pada tahap pembangunan dan konstruksi, bahkan mampu mengubah kawasan terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Biasanya, investasi pertambangan memiliki daya dorong yang kuat, terutama pada tahap konstruksi. Suatu wilayah yang dulunya terpencil mampu diubah menjadi pusat pertumbuhan,” ujar Abd Jamal pada Rabu (16/9/2026).
Meski demikian, keberlanjutan manfaat ekonomi tersebut sangat bergantung pada proses hilirisasi. Tanpa hilirisasi, pertumbuhan ekonomi dari sektor tambang berpotensi terhenti saat aktivitas eksploitasi usai, mengingat pertambangan merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui.
Indikator Dampak Ekonomi dan Efek Pengganda
Untuk mengukur dampak investasi pertambangan secara komprehensif, tidak hanya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dijadikan acuan, tetapi juga penerimaan daerah (pajak, retribusi, royalti, DBH) serta kemampuan menciptakan lapangan kerja.
Jika sektor pertambangan mampu menjadi sektor basis atau leading sector, perkembangan di sektor ini akan turut menarik gerbong ekonomi sektor pendukung lainnya. Investasi tambang juga memicu efek pengganda (multiplier effect) melalui:
- Infrastruktur Publik: Pembangunan jalan, pelabuhan, dan pembangkit listrik oleh perusahaan dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat umum.
- Peluang Bisnis Lokal: Menggerakkan BUMD dan pengusaha daerah melalui penyediaan logistik, katering, transportasi, serta penyewaan alat berat.
- Aktivitas Ekonomi Masyarakat: Pengeluaran belanja pekerja tambang menghidupkan sektor ritel, properti/kos-kosan, rumah makan, dan UMKM sekitar.
Tantangan Tenaga Kerja dan Catatan Kebijakan
Abd Jamal mengingatkan bahwa pertambangan adalah industri padat modal. Penyerapan tenaga kerja langsung secara umum terbatas pada keahlian spesifik yang jika belum tersedia di daerah, berpotensi didatangkan dari luar. Peluang penyerapan tenaga kerja lokal terbesar justru berada pada sektor-sektor pendukung tidak langsung seperti usaha kuliner, laundry, transportasi, keamanan, dan konstruksi.
Oleh karena itu, keberadaan investasi pertambangan perlu diimbangi dengan kebijakan yang tepat agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat lokal:
- Pemberdayaan Masyarakat: Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan pemberdayaan diarahkan pada peningkatan kapasitas jangka panjang (seperti beasiswa dan modal usaha), bukan sekadar bantuan amal yang bersifat konsumtif.
- Pengelolaan Fiskal Daerah: Pemerintah daerah diharapkan mampu mengonversi penerimaan royalti dan pajak menjadi pembangunan fasilitas publik dasar, terutama di sektor kesehatan dan pendidikan.
Penulis : Nazarullah
Editor: Dahlan









