BANDA ACEH — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh bekerja sama dengan Pemerintah Aceh menggelar pelatihan bertajuk “Transformasi Media Siber Berbasis AI Menuju Organisasi Profesional, Adaptif dan Kolaboratif” di Ballroom Hotel Amel, Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan ini bertujuan mendorong insan pers di Aceh agar mampu beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tanpa mengesampingkan peran utama jurnalis.
Acara tersebut menghadirkan beberapa narasumber, yakni Ketua SMSI Pusat Firdaus, perwakilan Google Ilona, serta dua jurnalis senior Aceh, Maskur Abdullah dan Ramadhan. Pelatihan ini diikuti oleh para pewarta dari berbagai kabupaten/kota di Aceh.
Ketua SMSI Aceh, Aldin Nainggolan, menyampaikan apresiasinya atas dukungan Pemerintah Aceh. Ia menilai pemanfaatan AI merupakan peluang bagi wartawan untuk mengoptimalkan produktivitas serta mutu karya jurnalistik. Senada dengan hal itu, Ketua Panitia Muhammad Saman menjelaskan bahwa teknologi digital telah menggeser pola masyarakat dalam mengakses informasi. Pemanfaatan AI dapat membantu berbagai tahap kerja jurnalistik, seperti pengolahan bahan bacaan hingga pembuatan konten visual dan video.
Meski begitu, Muhammad Saman mengingatkan agar teknologi tidak menggantikan peran manusia. Menurutnya, jurnalis wajib mempertahankan daya kritis, melakukan verifikasi, dan bertanggung jawab penuh atas informasi yang disajikan.
“Manusia yang menciptakan AI, jangan sampai justru kita yang dimakan AI,” tegas Saman.
Ketua SMSI Pusat, Firdaus, turut menekankan bahwa kemajuan teknologi harus dipakai untuk memperkuat kapasitas media siber. Ia juga menyinggung pentingnya fungsi kritik media kepada pemerintah maupun instansi lain sebagai bentuk dorongan perbaikan.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Aceh. Mewakili Plt Sekda Aceh, Staf Ahli Dr. Husnan menyatakan bahwa kecanggihan teknologi tetap harus berpedoman pada etika dan norma jurnalistik. Ia optimistis penggunaan AI yang tepat dapat meningkatkan kapasitas insan pers di tengah arus informasi yang serba cepat.
Sebagai penutup, dua jurnalis senior Aceh, Maskur Abdullah dan Ramadhan, berpesan agar wartawan tidak bergantung sepenuhnya pada AI. Keduanya mengingatkan bahwa AI sebatas alat bantu, sementara proses menggali data, membaca, dan verifikasi tetap menjadi tugas mendasar seorang jurnalis.
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









