Aceh Timur – Atmosfer politik di Kabupaten Aceh Timur mendadak memanas pasca-restrukturisasi kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh (PA). Baru hitungan hari mencicipi kursi jabatan, Sekretaris DPW PA Aceh Timur, Iskandar Midsen, langsung dihantam teror psikologis tingkat tinggi berupa kiriman selongsong peluru aktif dan pesan bernada ancaman pembunuhan.
Paket misterius bernada intimidasi tersebut mendarat di tangan Iskandar pada Rabu (1/7/2026). Saat amplop dibuka, sebutir selongsong peluru ditemukan bersama selembar kertas berisi pesan tak bersahabat dalam bahasa daerah yang meminta dirinya segera menanggalkan jabatan strategis tersebut.
Ancaman itu berbunyi sangat spesifik:
“Kah nyak ih mnyoe peurle aman tinggal di Peureulak ka mundoe dari sekretaris PA Aceh Timur” yang berarti: “Iskandar, jika ingin aman tinggal di Peureulak, engkau harus mundur dari jabatan Sekretaris Partai Aceh (PA) Aceh Timur.”
Trauma Keluarga dan Sikap Tegas Korban
Aksi premanisme politik ini tak pelak memicu situasi mencekam di kediaman pribadi Iskandar. Kepada awak media, Iskandar mengakui ancaman nyata ini telah merenggut ketenangan domestik keluarganya, di mana sang istri kini didera trauma dan ketakutan hebat.
Meski psikologis keluarganya diguncang, Iskandar memilih tidak tunduk pada tekanan hitam tersebut. Dirinya memastikan langkah hukum akan segera ditempuh demi membongkar dalang di balik layar.
“Saya akan lapor ke polisi agar diusut tuntas. Perlu diketahui siapa pelakunya, supaya tidak ada lagi yang menjadi korban teror serupa,” tegasnya saat dikonfirmasi Kamis (2/7/2026), sebagaimana telah dilansir sejumlah media lokal.
Dinamika Internal dan Kecaman Keras Haji Maop
Guncangan ini terbilang ironis mengingat Iskandar Midsen baru saja dikukuhkan sebagai Sekretaris DPW dalam prosesi pelantikan resmi kepengurusan baru di bawah komando Azhari M. Nur alias Haji Maop. Pengukuhan tersebut berlangsung khidmat di Hotel Royal Idi pada 25 Juni 2026 lalu.
Merespons tindakan intimidasi yang menyasar gerbong barunya, Ketua DPW PA Aceh Timur, Haji Maop, langsung memasang badan dan mengutuk keras aksi tersebut. Pihaknya menilai cara-cara kotor seperti ini tidak boleh diberi ruang di tanah Aceh Timur.
“Kami kecam keras aksi ini. Tidak boleh dibiarkan, kami juga akan mendukung pelaporan resmi agar intimidasi serupa tidak terulang di Aceh Timur,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan penyelidikan.(*)
Editor: Redaksi










