Aceh Besar – Zawiyah Tanoh Abee kembali menjadi pusat perhatian dunia keilmuan Islam. Lembaga pendidikan dan warisan ulama yang telah berdiri sejak ratusan tahun lalu ini kembali dikunjungi para cendekiawan internasional yang ingin menelusuri jejak sejarah dan khazanah keilmuan Islam di kawasan Nusantara.
Pada Jumat, 6 Maret 2026, Zawiyah Tanoh Abee menerima kunjungan dua ulama sekaligus akademisi dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), yakni Anis Malik Thoha dan Cecep Soleh. Kedatangan keduanya merupakan bagian dari agenda ilmiah sekaligus ziarah sejarah untuk menelusuri kembali hubungan keilmuan ulama Aceh dengan dunia Melayu, khususnya Brunei Darussalam.
Dalam kunjungan tersebut, kedua akademisi ini melakukan ziarah ke makam para ulama besar Tanoh Abee, termasuk makam Abu Dahlan Tanoh Abee yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Aceh. Ziarah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap para ulama yang telah mewariskan tradisi ilmu dan dakwah Islam kepada generasi berikutnya.
Selain berziarah, rombongan juga meninjau langsung koleksi manuskrip kuno yang tersimpan di perpustakaan Tanoh Abee. Manuskrip-manuskrip tersebut merupakan karya para ulama Melayu terdahulu yang memuat berbagai pembahasan penting, mulai dari sejarah Islam, kajian fiqh, tasawuf, hingga sirah Nabi Muhammad SAW.
Sebagian besar manuskrip tersebut ditulis dalam aksara Arab Melayu atau Jawi dan menjadi sumber penting bagi para peneliti sejarah Islam di Asia Tenggara. Naskah-naskah tersebut juga mencerminkan kuatnya jaringan intelektual ulama Melayu yang dahulu menghubungkan Aceh dengan berbagai pusat pendidikan Islam di kawasan Nusantara dan Semenanjung Melayu.
Dalam kunjungan itu, kedua cendekiawan dari Brunei turut didampingi oleh Muhajir al Fairusy serta akademisi dari Universitas Syiah Kuala, yakni Mohd Iqbal. Kehadiran para akademisi tersebut menambah nilai penting dari kunjungan ini sebagai bagian dari kerja sama ilmiah lintas negara dalam upaya pelestarian warisan intelektual Islam.
Kunjungan ini tidak hanya sekadar agenda penelitian, tetapi juga memiliki makna historis yang mendalam. Pertemuan tersebut menandai kembali terjalinnya hubungan keilmuan dan spiritual yang pada masa lalu pernah terbangun erat antara ulama Tanoh Abee dengan ulama di Brunei Darussalam. Hubungan tersebut telah berlangsung sejak era Abu Dahlan Tanoh Abee dan generasi ulama Tanoh Abee terdahulu.
Pada masa itu, jaringan ulama Melayu berkembang luas dan menghubungkan Aceh dengan berbagai pusat keilmuan Islam di Asia Tenggara. Para ulama saling bertukar ilmu, karya tulis, serta membangun hubungan spiritual melalui jaringan pendidikan dan dakwah yang kuat.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Zawiyah Tanoh Abee, Cutbang Abulis yang mewakili Teungku Abdul Hafidz al Fairusu al Baghdady menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat atas kunjungan para akademisi dari Brunei tersebut.
Ia menyatakan bahwa pihak Zawiyah Tanoh Abee sangat menyambut baik niat para akademisi UNISSA yang datang untuk meneliti sekaligus ikut melestarikan khazanah sejarah Islam yang tersimpan di Tanoh Abee.
Menurutnya, manuskrip-manuskrip kuno yang diwariskan oleh para ulama Melayu tersebut bukan hanya sekadar dokumen sejarah, tetapi juga menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan dakwah Islam, pemikiran ulama Nusantara, serta kajian tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang telah ditulis oleh para ulama terdahulu.
Ia berharap kunjungan tersebut dapat membuka ruang kerja sama akademik yang lebih luas antara lembaga pendidikan Islam di Aceh dan Brunei Darussalam, khususnya dalam bidang penelitian manuskrip, sejarah Islam, dan pengembangan studi keislaman di kawasan Asia Tenggara.
Dengan adanya kunjungan ini, Zawiyah Tanoh Abee kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat warisan intelektual Islam di Nusantara yang memiliki nilai sejarah tinggi serta terus menarik perhatian para peneliti dari berbagai negara.(**)
Editor: Dahlan













