Banda Aceh – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat Provinsi Aceh membukukan surplus perdagangan sebesar USD 105,40 juta selama periode Januari hingga Juni 2026. Capaian ini bersumber dari nilai devisa ekspor sebesar USD 366,66 juta (sekitar Rp6,3 triliun) dengan total berat bersih 7,09 juta ton, berbanding nilai devisa impor sebesar USD 261,26 juta (sekitar Rp4,49 triliun).
Struktur Ekspor Aceh
Komoditas ekspor Aceh didominasi oleh tiga kelompok utama yang menyumbang 97,1% dari total devisa:
- Produk Mineral: USD 261,93 juta (71,4% dari total ekspor).
- Sektor Perkebunan: USD 64,51 juta (17,6% dari total ekspor).
- Minyak Sawit Mentah (CPO): USD 29,74 juta (8,1% dari total ekspor).
Detail Komoditas Utama Ekspor
- Batu Bara: Menjadi komoditas mineral utama dengan total devisa USD 261,59 juta. Ekspor berasal dari Kabupaten Aceh Barat (USD 205,79 juta) dan Nagan Raya (USD 55,80 juta). Tiga eksportir utama mencakup PT Mifa Bersaudara (72,87%), PT Bara Energi Lestari (21,33%), dan PT Media Djaya Bersama (5,79%). Negara tujuan ekspor didominasi India (83,93%), diikuti China, Thailand, dan Vietnam.
- Perkebunan: Didominasi komoditas kopi, teh, maté, dan rempah-rempah yang menyumbang 90,78% devisa sektor ini.
- CPO: Diekspor seluruhnya oleh PT Agro Murni sebesar 25,67 ribu ton (USD 29,74 juta) dengan negara pembeli Singapura dan tujuan pengiriman fisik ke India.
Dinamika Tren Ekspor
Nilai devisa ekspor pada Kuartal II 2026 mencapai USD 195,18 juta (naik 13,82% dari Kuartal I), meski total berat bersihnya turun 7,19%. Puncak ekspor tertinggi terjadi pada Juni 2026 sebesar USD 85,31 juta (melonjak 61,31% dibanding Mei), yang didorong kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA) serta volume pengiriman.
Struktur Impor Aceh
Aktivitas impor Aceh didominasi komoditas gas dengan porsi 97,96% dari total devisa impor:
- Butana: USD 132,56 juta.
- Propana: USD 123,36 juta.
Amerika Serikat menjadi negara asal barang utama untuk kedua komoditas ini dengan nilai USD 237 juta (93%). Dari sisi negara pemasok, AS memimpin dengan 37%, diikuti Uni Emirat Arab (32%), Singapura (18%), serta Aljazair dan Norwegia (masing-masing 7%). Puncak impor tertinggi terjadi pada Mei 2026 dengan nilai USD 89,16 juta dan berat bersih 122,16 ribu ton.
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan









