Bener Meriah – Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Zulkarnaini, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik. Pihaknya juga memberikan jaminan bahwa akses jalan nasional Bireuen Takengon di kawasan Enang Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, tidak akan ditutup total bagi aktivitas masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan langsung saat kunjungan keduanya ke lokasi proyek pada Kamis (25/6/2026), di tengah polemik dan gelombang penolakan keras dari masyarakat setelah pihak BPJN sempat berencana menghentikan aktivitas pengerjaan swadaya masyarakat setempat.
Meluruskan Salah Paham di Lokasi Proyek
Di hadapan para warga yang selama berminggu-minggu bergerak memperbaiki jalan secara swadaya, Zulkarnaini menjelaskan bahwa dinamika yang berkembang belakangan ini dipicu oleh miskomunikasi. Menurutnya, ucapan dirinya pada peninjauan sebelumnya telah disalahartikan oleh publik.
“Apa yang saya sampaikan bukan bermaksud menutup jalan ini sama sekali.Pembatasan hanya berlaku bagi kendaraan bermuatan berlebih saja. Oleh karena itu, saya meminta maaf atas ketidakjelasan informasi yang terjadi,” ujar Zulkarnaini di lokasi.
Pernyataan terbaru ini menandai perubahan sikap yang cukup signifikan dari pihak BPJN Aceh. Pasalnya, instansi tersebut sebelumnya sempat meminta menghentikan seluruh pekerjaan perbaikan mandiri yang diinisiasi oleh warga.
Saat itu, BPJN Aceh berdalih struktur badan jalan maupun jembatan di kawasan tersebut masih sangat rawan dan belum memenuhi standar keamanan lalu lintas, sehingga dinilai membahayakan.
Protes Keras Warga atas Penghentian Gotong Royong
Langkah sepihak dari otoritas jalan nasional tersebut langsung memicu kekecewaan dan protes luas dari berbagai elemen. Salah satunya datang dari Syahrial, tokoh masyarakat sekaligus penggagas pengerjaan swadaya Jalan Nasional Tajuk Enang-Enang.
Syahrial melayangkan kritik tajam dan mengungkapkan kekecewaannya atas larangan awal tersebut. Di hadapan rombongan BPJN, ia menegaskan bahwa semangat gotong royong warga justru patut dihargai karena lahir dari kepedulian terhadap fasilitas publik yang terbengkalai.
“Pemerintah seharusnya bangga masih ada warga yang peduli dan berinisiatif memperbaiki fasilitas yang terbengkalai. Semangat ini harus didukung, bukan dihambat, agar makin banyak pihak yang peduli kepentingan umum,”
Kronologi Ketegangan di Jalur Urat Nadi Gayo
Ketegangan ini bermula pada Senin (22/6/2026), saat tim BPJN mendatangi lokasi pekerjaan jalan yang dibiayai dari hasil sumbangan warga secara mandiri.
Alih-alih mendapatkan dukungan teknis atau apresiasi dari pemerintah, warga justru dikejutkan dengan perintah penghentian kegiatan dengan alasan kondisi tanah dan jembatan belum stabil. Kala itu, BPJN bahkan sempat mengeluarkan larangan, “stop” melintas bagi masyarakat umum, kecuali penduduk sekitar yang ingin menuju ke ladang.
Tindakan tersebut dinilai mengabaikan peran dan kontribusi nyata masyarakat yang telah meluangkan waktu dan materi. Padahal, jalur Enang-Enang merupakan urat nadi utama penghubung kawasan Dataran Tinggi Gayo dan wilayah sekitarnya yang bernilai ekonomis tinggi.
Dengan adanya klarifikasi dan permohonan maaf langsung dari Kepala BPJN Aceh ini, ketegangan antara warga dan pihak balai kini mereda. Arus lalu lintas di jalur vital tersebut dipastikan tetap berjalan normal dengan pembatasan tonase kendaraan guna menjaga keamanan bersama. (arlubis)
Editor: Redaksi









