BANDA ACEH — Pemerintah pusat memastikan akan mengusut tuntas insiden pembubaran pengibaran bendera bulan bintang yang menewaskan seorang warga, Abzalul Riza (20), serta menyebabkan 13 orang lainnya menjadi korban di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, pada Rabu (4/11/2026).
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan bahwa pemerintah ingin memastikan fakta sebenarnya di balik peristiwa yang terjadi saat masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.
Untuk menindaklanjutinya, pemerintah telah berkomunikasi dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI agar segera turun ke Aceh guna melakukan pemantauan dan penyelidikan.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Ketua Komnas HAM. Mereka akan datang melakukan penyelidikan bersama Komnas HAM perwakilan Aceh. Kita minta berkoordinasi dengan Kapolda dan Pangdam. Mereka akan turun ke Aceh pada Minggu (8/11),” kata Yusril dalam konferensi pers di Ruang VIP Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Jumat (6/11/2026).
Konferensi pers tersebut turut dihadiri oleh Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan dan Pangdam Iskandar Muda Brigjen TNI Mahesa Fitriadi.
Dalam kesempatan itu, Yusril menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Riza dan mendoakan agar para korban luka dapat segera pulih. Ia juga berharap keluarga almarhum diberikan kekuatan serta ketabahan.
Yusril menjelaskan, penyelidikan diperlukan untuk memastikan penyebab luka yang dialami para korban, terutama terkait apakah luka pada korban meninggal dunia memang disebabkan oleh tembakan atau faktor lain.
“Walaupun disebut adanya insiden penembakan, apakah benar ini insiden penembakan, apakah luka pada korban meninggal itu luka tembak atau yang lain, memang masih perlu dilakukan pendalaman dan penyelidikan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa jenazah korban telah dimakamkan tanpa melalui proses autopsi. Kendati demikian, hal tersebut tidak menghentikan upaya untuk mengungkap fakta peristiwa. Pemerintah tetap berkomitmen mencari kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Pulo Keunari.
Menurut Yusril, Komnas HAM memiliki kewenangan untuk melakukan pemantauan dan penyelidikan sesuai dengan tugas serta fungsinya. Pemerintah berharap proses tersebut berjalan secara objektif dengan tetap berkoordinasi bersama aparat terkait.
“Persoalan ini menyangkut nyawa manusia yang harus kita hormati. Namun, kita juga harus bersikap rasional dan tenang agar persoalan ini dapat kita letakkan pada porsi yang sesungguhnya,” tutur Yusril.
Di sisi lain, Yusril menegaskan bahwa pemerintah sangat menghormati tradisi masyarakat Aceh dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang telah mengakar kuat. Oleh karena itu, pemerintah tidak bermaksud membatasi kegiatan keagamaan tersebut.
Namun, ia menilai pengibaran bendera bulan bintang yang kerap menyertai perayaan Maulid menjadi persoalan sensitif yang perlu diselesaikan secara bijaksana. Yusril mengimbau para ulama, teungku, dan pengurus pondok pesantren untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar insiden serupa tidak memicu konflik kembali.
“Kita anggap peristiwa tanggal 4 kemarin sebagai yang terakhir. Maulid silakan jalan terus, tetapi menahan dirilah supaya tidak timbul masalah seperti kemarin,” pungkasnya.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









